Monday, September 20, 2010

Kebun Raya Cibodas


Kebun Raya Cibodas (Cibodas Botanical Garden), terletak di Kompleks Hutan Gunung Gede Pangrango, Desa Cimacan, Pacet, Cianjur. Topografi lapangannya bergelombang dan berbukit-bukit dengan ketinggian 1.275 m dpl, bersuhu udara 17 - 27 derajat Celcius.

Kebun ini didirikan pada tahun 1852 oleh Johannes Elias Teijsmann sebagai cabang dari Kebun Raya Bogor pada lokasi di kaki Gunung Gede. Dengan curah hujan 2.380 mm per tahun dan suhu rata-rata 18 derajat Celsius, kebun botani ini dikhususkan bagi koleksi tumbuhan dataran tinggi basah tropika, seperti berbagai tumbuhan runjung dan paku-pakuan.


Fasilitas
Berbagai fasilitas tersedia di kawasan Cibodas, mulai dari lapangan parkir yang luas untuk menampung puluhan kendaraan roda empat maupun bus, ruang informasi yang dilengkapi dokumentasi Wana Wisata Cibodas, areal bermain anak-anak, mushola, MCK umum, shelter, pendopo, teater alam terbuka, dan camping ground seluas 3 hektar yang dapat menampung 200 tenda.

Kebun Raya Cibodas berdekatan dengan beberapa tempat wisata lainnya. Bersebelahan dengan Kebun Raya Cibodas terdapat Bumi Perkemahan Mandala Kitri yang dikelola oleh Pramuka. Tersedia juga lapangan golf, Bandung Asri Mulya.

Di bumi perkemahan Mandalawangi yang dikelola oleh Perum Pehutani tampak sebuah patung dinosaurus, yang memberikan gambaran atau peringatan agar kelestarian hutan ini janganlah sampai musnah seperti binatang purba yang tinggal sejarah tersebut.
Disamping itu, Kebun Raya Cibodas juga berdekatan dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP).
Tumbuhan Koleksi
Kebun Raya Cibodas (KRC) dimaksudkan sebagai tempat koleksi ex situ (di luar habitat) bagi tumbuh-tumbuhan tropis basah dataran tinggi. Termasuk dalam koleksinya adalah berbagai jenis pohon besar yang dilindungi seperti tusam dan tumbuhan runjung, tumbuhan paku pegunungan, hutan kaliandra, hutan alam dan terdapat pua air terjun. Dari pintu masuk ke lokasi air terjun berjarak 750 meter.

Taman Lumut Cibodas
Koleksi yang paling khas dari KRC adalah Taman Lumut Cibodas yang memiliki 216 jenis lumut dan lumut hati dari berbagai sudut Indonesia dan dunia. Dengan luas 2500m persegi, taman ini diklaim sebagai satu-satunya di dunia yang terletak di luar ruangan dan memiliki koleksi terbanyak.
Rute Pencapaian
Untuk mencapainya, dari Cipanas lewat Simpang Tiga Paregrejen sejauh 5 km. Dari Jakarta, Bogor, dan Bandung dapat mempergunakan roda dua dan empat, bus besar dapat masuk ke dalam kawasan ini. Bila menggunakan bus atau colt turunlah di pertigaan Cibodas, langsung menggunakan angkutan umum rute Cipanas-Rarahan, sampai di Balai Taman Nasional Gede-Pangrango, selanjutnya tinggal berjalan kaki menuju Kebun Raya.

Dari simpang tiga (Simpang Paragajen) menuju Cibodas, di kiri kanan jalan dijual berbagai tanaman hias khusus daerah pegunungan yang sangat indah, warna-warni dan beraneka ragam jenisnya.

 

Wednesday, September 15, 2010

Kepulauan Banda

Aku jatuh cinta dengan Kepulauan Banda, kepulauan yang terdiri dari 10 pulau-pulau vulkanik yang subur di Indonesia, ketika saya mengunjungi tempat tersebut beberapa tahun yang lalu. Aku berlayar ke sana dengan perahu layar dengan layar persegi panjang - dan menemukan bagian dari dunia yang langka yang benar-benar murni dan tenang.

Kepulauan itu dulu dijajah oleh Belanda, yang menanam pala di sana, dan untuk waktu yang lama Kepulauan Banda hampir menjadi satu-satunya sumber rempah-rempah di dunia. Diperkirakan bahwa Belanda menjual pala tersebut senilai lebih dari satu juta gulden yang didapat dari semua pulau-pulau kecil ini.



Sebagai Kepulauan hasil jajahan Belanda, pulau-pulau yang indah ini dihiasi dengan rumah-rumah kolonial Belanda, banyak di antaranya telah selamat dari jajahan berkat lokasi pulau terpencil. Terlebih lagi, mereka diberkati dengan pemandangan yang paling menakjubkan, terutama gunung berapi yang disebut Gunung Api (Fire Mountain), yang memiliki interior laguna yang indah.


Saya juga pergi ke pulau-pulau di sebuah tempat kecil bernama Ambon dan melakukan perjalanan melalui kepulauan sebagai bagian dari ekspedisi yang terdiri dari 5 orang. Kami memasak dan tidur di perahu. Namun, jika Anda mencari akomodasi, saya dapat merekomendasikan Hotel Maulana (0062 910 21022). Masakan lokalnya sangat baik. Cukup nikmat, ikan-ikan yang lezat dan buah-buahan tropis - pisang, durian, mangga yang lezat.


Cuaca yang paling bagus untuk berkinjung adalah dari bulan September sampai April, ketika laut tenang, dan di saat beberapa bagian di timur jauh sana mempunyai reputasi sebagai wilayah yg mudah utuk tindakan pembajakan, menurut pengalaman saya Kepulauan Banda cukup aman.

Jika Anda pergi berlayar di sekitar pulau,anda akan mengagumi dan melihat betapa mengagumkannya satwa liar setempat, dapat mengunjungi perkebunan pala dan pergi menyelam - menikmati karang-karang yang paling indah, belum lagi air yang paling jernih di mana Anda bisa mandi.


Menuju kesana mungkin membutuhkan perencanaan yg matang, namun tempat ini benar-benar surga dunia. Disini hanya akan terdapat beberapa turis saja, dan ini merupakan salah satu tempat dramatis, dan terindah di planet ini. Oleh: Tim Severin

Sumber: http://www.telegraph.co.uk/travel/ce...a-Islands.html

Tuesday, September 14, 2010

Menghirup Udara segar di Ranu Kumbolo



PEMANDANGAN yang dapat dilihat di Ranu Kumbolo sungguh luar biasa. Aliran air nan tenang di danau seluas 15 kali lapangan sepak bola itu begitu indah, terlebih lagi menjelang matahari terbenam. Asap putih tipis yang muncul di lereng-lereng bukit sekeliling menambah keindahan di sana. Ranu Kumbolo terletak di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Se-meru (TNBTS), Jawa Timur. Tepatnya, di kaki gunung tertinggi di Pulau Jawa, yaitu Gunung Semeru. Pada saat ini, danau yang berada di ketinggian 2.500 di atas permukaan laut itu masih jarang dikunjungi oleh wisatawan.


Pengunjung terbanyak, biasanya, adalah pendaki yang ingin mencapai puncak Gunung Semeru, yaitu Mahameru.
Akses jalan menuju Ranu Kumboto terbilang sulit. Untuk mencapai ke sana, pendaki umum-nya menyewa mobil jip dari Tumpang, Kabupa-ten Malang. Untuk menyewa jip, calon pendaki perlu menyiapkan dana sekitar Rp600 ribu.


Perjalanan dengan mobil dilakukan sampai Ranu Pani, Kabupaten Lumajang, lalu dilanjutkan dengan pendakian selama empat jam. Setibanya di Ranu Pani, pengunjung dapat menikmati makanan khas Jawa Timur seperti rawon. Di sepanjang jalan, pengunjung akan melewati lereng bukit dan hutan hujan tropis yang masih perawan. Belum terlalu dijamahnya Ranu Kumbolo oleh tangan-tangan manusia menguntungkan. Kebersihan di sanajadi terjaga karena tidak banyak orang yang membuang sampah sembarangan.


Keindahan Ranu Kumbolo juga tampak ketika mentari pagi mulai bersinar. Danau terlihat seperti cermin. Air yang ada di sana tampak seperti cermin karena mampu merefleksikan bukit-bukit di sekitarnya. Tidak hanya itu. Danau tersebut menawarkan pula udara yang seg-arsehingga wisatawan yang berkunjung ke sana dapat memanjakan paru-parunya. Walaupun dapat membeli makanan di Ranu Pani, calon pendaki sebaiknya membawa be-kal makanan. Pasalnya, di Ranu Kumbolo tidak ada warung yang menjual makanan.(7S-11)


Menyusuri Pantai Di Desa Sawarna


Tanjung Layar
Pantai pasir putih yang indah dipadu dengan ganasnya ombak Laut Selatan dapat Anda temui di Desa Sawarna. Susuri pantainya, maka Anda akan jatuh cinta.

Berada dalam perjalanan selama 9 jam dari Jakarta, beberapa jam diantaranya terguncang-guncang akibat jalanan yang rusak, tidak menyurutkan semangat saya untuk mengunjungi Desa Sawarna. Saya selalu berkeyakinan bahwa semakin susah sebuah tempat untuk dikunjungi maka tempat itu akan semakin indah. Dan lagi-lagi keyakinan saya tidak salah. Desa Sawarna punya jajaran pantai terbaik yang akan memuaskan Anda.

Desa Sawarna adalah sebuah desa kecil yang terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak. Desa yang berarti satu warna ini terletak di ujung provinsi Banten dan berada tepat di 237 km Barat Daya Jakarta. Desa Sawarna berpenduduk sekitar 5.700 jiwa yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan nelayan, selain menjadi peternak hewan seperti kambing dan kerbau.

Hawa petualangan sudah terasa sewaktu saya tiba di Desa Sawarna. Untuk memasuki desa, saya harus meniti jembatan gantung sepanjang 50 meter yang membelah Sungai Sawarna. Jembatan yang menghubungkan desa dengan jalan raya ini hanya bisa dilalui oleh sepeda motor atau dengan berjalan kaki. Saya harus berjalan pelan dan memegang tali jembatan dengan hati-hati karena jembatan akan bergoyang jika dilalui. Setelah berhasil melewati jembatan, maka perjalanan saya menyusuri pantai dimulai.

Surga pecinta Surfing di pantai Ciantir

Alangkah menyenangkan jika perjalanan menyusuri pantai dimulai dengan berburu matahari terbit di Pantai Ciantir. Bunyi gemuruh ombak menyambut kedatangan saya. Kelembutan pasir putih di Pantai Ciantir seakan sebuah permadani penyambutan bagi pengunjung yang ingin menikmati matahari terbit disana. Sang mentari yang muncul perlahan dari balik jajaran pucuk pohon nyiur dengan latar belakang langit yang bersih adalah pemandangan mempesona yang bisa Anda dapatkan.

Setelah matahari sudah mulai meninggi, saya mulai mengeksplorasi Pantai Ciantir. Pantai ini memiliki garis pantai sekitar 3 km dan berada di ujung selatan Desa Sawarna. Di Pantai Ciantir ini Anda dapat melihat jajaran perahu nelayan sehabis melaut yang dicat dengan warna-warni cerah. Perahu-perahu ini ditambatkan tak jauh dari Tempat Pelelangan Ikan yang menempati bangunan yang sederhana.

Di Bulan Agustus–September, jika beruntung, Anda akan disuguhi pemandangan para peselancar yang bergerak lincah diantara ombak. Pantai Ciantir memang terkenal memiliki ombak Laut Selatan bergelombang besar yang cocok untuk berselancar. Tak heran, Pantai Ciantir merupakan salah satu tujuan favorit peselancar dari mancanegara. Puas menikmati keahlian para peselancar menaklukan ombak, saya melanjutkan perjalanan menuju Pantai Tanjung Layar.

Pantai Tanjung Layar ditandai oleh dua buah batu besar yang menyerupai layar kapal. Batu Layar ini letaknya terpisah dari pantai kira-kira sejauh 50 meter. Di belakang Batu Layar terdapat gugusan karang yang memanjang yang berfungsi sebagai pemecah ombak. Dari bibir pantai, Anda dapat dengan mudah menyeberang untuk mencapai batu Tanjung Layar. Tapi jika air laut sedang pasang, Anda mungkin akan mengalami kesulitan menyeberang. Di Batu Layar ini Anda perlu berhati-hati. Ombak disini begitu besar dan ganas. Lengah sedikit, anda bisa terseret ombak. Namun Pantai Tanjung Layar adalah tempat terbaik untuk memuaskan hobi fotografi anda. Keunikan bentuk batu layar dan karang pemecah ombak dapat menjadi obyek foto yang menarik. Atau Anda bisa mencoba memotret sang ombak yang terpecah di sela-sela karang. Sungguh luar biasa!

Pantai di Tanjung Layar yang berbatu-batu ini juga terdapat banyak fosil kerang dan batu hias. Anda bisa mengumpulkan fosil kerang ini untuk penghias akuarium Anda di rumah atau sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang.
Selepas Pantai Tanjung Layar, saya meneruskan perjalanan menuju Pantai Legon Pari. Untuk menuju Pantai Legon Pari, saya harus melewati sebuah karang besar yang menjorok ke laut. Oleh warga setempat, karang ini dinamai Karang Bodas. Untuk melalui Karang Bodas, saya harus melalui medan yang agak sulit. Banyak batu besar dan juga karang yang menyulitkan perjalanan. Anda harus melangkah hati-hati di batu-batuan yang licin. Ombak yang sesekali menghempas membuat Anda harus siap untuk berbasah-basah ria. Sesekali saya juga mendapati ikan-ikan kecil dan binatang laut di sela-sela karang.

Setelah melewati Karang Bodas, Anda akan disuguhi hamparan pasir putih dan tanaman perdu di sisi-sisi pantai. Disini juga terdapat deretan karang unik yang menyerupai gigi. Jangan berhenti, lanjutkan perjalanan Anda dan temukan kesejukan Pantai Legon Pari.
Seperti pantai lainnya, Pantai Legon Pari berpasir putih. Pantai ini relatif cukup sepi dari pengunjung, hingga seolah-olah Anda sedang berada di pantai pribadi saja. Di Pantai Legon Pari Anda bisa bermain air di tepi pantai atau sekedar duduk-duduk santai di pasir putih nan lembut sambil melepas dahaga dengan air kelapa muda yang segar. Pemandangan ke laut lepas dengan ombak yang tak jemu-jemu menghempas pantai akan Anda dapatkan disini, ditambah bonus pemandangan Pantai Taraje di kejauhan.
Selain Pantai Ciantir, Pantai Tanjung Layar dan Pantai Legon Pari, Desa Sawarna juga memiliki pantai Pulau Manuk. Pantai Pulau Manuk terletak agak jauh dan lebih ramai pengunjung.

Menyusuri Gua
Selain wisata pantai, Desa Sawarna juga terkenal dengan guanya. Salah satu gua yang bisa Anda kunjungi adalah Gua Lauk. Membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan dengan berjalan kaki untuk mencapai Gua Lauk. Jalan yang naik dan turun cukup menguras tenaga. Tetapi segala kelelahan terbayar dengan pemandangan sepanjang perjalanan. Hamparan sawah yang menguning dengan sungai yang mengalir dengan jernih khas pemandangan pedesaan. Rasakan kesegaran di kaki Anda ketika menyeberangi sungai.

pematang sawah menuju Gua Lalay ( Gua Kelelawar )

Sebelum memasuki gua, saya harus menyeberangi sungai sedalam paha orang dewasa. Bagi Anda yang baru pertama kali memasuki gua seperti saya mungkin akan terkejut. Gua Lauk sangat gelap sehingga harus menggunakan penerangan. Dasar gua berlumpur tebal dan terisi air membuat saya harus eksta keras berusaha menyusuri gua hingga ke dalam. Di dalam Gua Lauk saya melihat banyak stalaktit. Stalaktit merupakan batu berbentuk kerucut yang menggantung di langit-langit gua. Stalaktit ini terbentuk dari tetesan air dari atap gua yang mengkristal. Bagian dalam gua ini juga dihuni oleh kelelawar yang menggantung di langit-langit gua dan berbau tidak sedap. Pengalaman pertama saya memasuki gua lauk ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan.
Selain menyusuri pantai dan gua, desa sawarna juga memiliki keindahan bukit dan persawahan. Anda bisa berjalan-jalan di pematang sawah yang hijau cerah yang memanjakan mata. Sekedar berjalan-jalan di Desa Sawarnapun bisa Anda lakukan. Penduduk Desa Sawarna ramah dan murah senyum akan menyambut Anda dengan terbuka sehingga Anda akan merasa nyaman.
Tidak diragukan lagi, Desa Sawarna adalah tempat yang harus anda kunjungi. Keindahan pantai, gua dan alamnya akan memuaskan jiwa petualang Anda.

Cara Mencapai Desa Sawarna
Ada beberapa alternatif transportasi yang dapat dipilih untuk mencapai Desa Sawarna. Dari Jakarta, Anda bisa menaiki bus ke Pelabuhan Ratu. Dari Pelabuhan Ratu ada kendaraan Elf yang akan langsung mengantarkan Anda ke Sawarna dengan membayar ongkos sekitar Rp. 20.000. Anda juga bisa menaiki bus jurusan Jakarta – Serang dengan tarif sekitar Rp. 20.000. Dari Serang menuju Bayah dapat dicapai dengan menggunakan Elf bertarif Rp. 25.000. Untuk mencapai Desa Sawarna, dari Bayah Anda dapat menaiki ojek motor dengan membayar ongkos sekitar Rp. 30.000.

Tips
  • Desa Sawarna memiliki banyak tempat menarik yang dapat dikunjungi. Jika Anda memiliki waktu sedikit, usahakan memulai mengeksplorasi Desa Sawarna sejak matahari terbit sehingga banyak tempat yang Anda dapat kunjungi.
  • Untuk menyusuri pantai di Desa Sawarna siapkan bekal minuman dan makanan kecil yang mencukupi karena jarang sekali ada warung yang menjual minuman dan jaraknya pun cukup jauh.
  • Pakailah pakaian dan alas kaki yang nyaman karena perjalanan menyusuri pantai cukup jauh dengan medan yang agak sulit.
  • Jika ingin menyusuri goa, lebih baik meminta bantuan warga desa yang mengenal baik medan dan sudah berpengalaman menyusuri goa. Di musim hujan sebaiknya tidak memasuki goa karena air relatif lebih tinggi sehingga menyulitkan perjalanan menyusuri goa.
  • Selalu waspada dan hati-hati ketika berada di pantai. Patuhi batas aman untuk berenang dan tidak memaksakan diri untuk berenang ketika air pasang dan ombak besar. Pantai-pantai di Sawarna memiliki ombak yang besar, jika tidak berhati-hati Anda bisa terseret ombak.
*Artikel ini pernah dimuat di Majalah Sekar Edisi 23 tahun 2010
sumber: http://mencarisenja.blogspot.com/2010/05/menyusuri-pantai-di-desa-sawarna.html
photo: http://berwisata.blogdetik.com/2010/09/03/libur-lebaran-desa-sawarna-banten/

Wednesday, August 4, 2010

Tangkahan: The Hidden Paradise in Sumatera


Tangkahan adalah sebuah kawasan di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Diapit oleh Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang, Tangkahan menawarkan pemandangan yang spektakuler dan udara segar yang menyejukkan. Mandi pagi di Sungai Buluh, di depan penginapan.
 
Kombinasi dari vegetasi hutan hujan tropis dan topografi yang berbukit, menjadikan Tangkahan sebagai tempat yang ideal untuk berwisata. Sungai Buluh dan Batang Serangan yang membelah hutan ini merupakan tipe sungai khas hutan tropis, dilengkapi dengan beraneka ragam jenis tumbuhan aneka warna dan tebing bercorak di sepanjang sungai. Air sungai yang sangat jernih dan bernuansa hijau menciptakan panorama dan atmosfer yang alami dan mistis. Tangkahan menjadi pilihan yang tepat untuk 'bersembunyi' dari hiruk-pikuknya kota berpolusi.

Untuk sampai di lokasi ini, dari Terminal Pinang Baris di kota Medan, Anda menggunakan bis Pembangunan Semesta langsung menuju Tangkahan, melewati Stabat. Perjalanan ke Tangkahan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 3-4 jam dari kota Medan. Untuk menuju kawasan ekowisata, kita harus menyeberangi sungai. Sungai Batang Serangan cukup deras arusnya, sehingga harus menggunakan rakit. Dan, disinilah petualangan Anda dimulai!

Banyak kegiatan wisata yang dapat dinikmati di Tangkahan, baik petualangan atau hanya sekadar berenang dan trekking di hutan tropis. Terdapat 3 jalur trekking di hutan ini, mulai dari soft trekking (untuk anak–anak maupun keluarga) sampai yang bersifat petualangan. Pengunjung akan ditemani pemandu lokal yang telah dibekali dengan pengetahuan tentang hutan dan interpretasi alam, sehingga Anda dapat mengetahui akan kekayaan alam yang tersembunyi di hutan ini.

Jangan kaget jika pertama kali melihat para pemandu (ranger) di Tangkahan, sepintas memang tampak agak 'seram', dengan rambut panjang, wajah persegi, dan logat karo yang keras, tapi jangan berprasangka buruk dulu lho... Ranger di sini semuanya dijamin super ramah dan sangat humoris. Istilah "don't judge the book by its cover" memang benar terbukti di sini. Kalo gak percaya, ya silakan dibuktikan sendiri.

Apa aja sih yang bisa dilakukan di Tangkahan?

Ada 7 gajah yang biasa dipakai untuk trekking. Trekking di sini maksudnya adalah Anda akan diajak masuk ke dalam hutan dengan menunggang gajah. Uniknya, gajah yang Anda tunggangi adalah gajah-gajah terlatih yang juga digunakan untuk patroli atau melindungi Taman Nasional dari kegiatan ilegal seperti perburuan, perambahan, dan tentu saja illegal loging.
 

Uniknya lagi, jalur yang digunakan untuk trekking pun adalah jalur yang biasa dipakai untuk berpatroli. Jadi, sambil berwisata dan menunggang gajah, Anda sekaligus bisa membayangkan bagaimana rasanya berpatroli di dalam hutan. Asyik, 'kan?
 

Oh, iya, gajah-gajah ini dulunya sering menyerang ladang dan rumah masyarakat desa, karena habitatnya tergusur. Namun, saat ini gajah tersebut tidak hanya membantu masyarakat desa, namun juga membantu mengamankan hutan.
 
Tepat di seberang penginapan Jungle Lodge, di tepi Sungai Buluh, ada sebuah goa yang di dalamnya mengalir air panas. Goa ini cukup besar sehingga Anda bisa berbaring dan merendam tubuh di aliran air panas alami ini.

Air Terjun

Di dekat pertemuan Sungai Buluh dan Sungai Batang Serangan terdapat air terjun kecil. Anda harus berjalan ke cekungan sungai sekitar 100 meter untuk mencapai air terjun ini. Duduk di bawah air terjun ini sangat menyenangkan, serasa mendapatkan pijatan alami!

Air terjun yang lebih besar juga ada di Tangkahan, namun Anda harus berjalan menyusuri Sungai Buluh terlebih dahulu dan bahkan harus berenang di sungai ini di bagian tertentu. Cukup mendebarkan bukan?

Goa

Di Tangkahan terdapat goa kelelawar, ya dinamakan demikian karena goa ini merupakan rumah bagi ribuan kelelawar. Namun jangan khawatir, goa ini sangat aman untuk dimasuki, asalkan Anda tidak membuat kegaduhan di dalamnya. Goa ini akan tembus ke pintu di seberangnya, dan... begitu keluar di mulut goa yang satunya, Anda bisa pulang kembali ke penginapan dengan cara yang baru, yaitu tubing!

Tubing

Jangan bilang Anda pernah ke Tangkahan, jika belum melakukan aktivitas yang satu ini. Tubing hampir sama dengan rafting, bedanya jika pada saat rafting kita menggunakan perahu karet, tidak demikian dengan tubing. Kita akan duduk di atas ban dalam truk yang sangat besar dan telah dipompa, lalu mengalir begitu saja mengikuti arus sungai sampai ke titik tertentu sambil menikmati pemandangan di tepi sungai. Sangat mendebarkan!

Tapi jangan khawatir, para pemandu di Tangkahan semuanya sudah sangat berpengalaman dalam kegiatan ini, dan mereka juga terlatih untuk hal keselamatan dan prosedur standar operasional.

tempat menginap

Latar belakang Tangkahan
Selain memiliki potensi wisata yang sangat tinggi, Tangkahan juga memiliki cerita yang sangat menarik, yang telah menjadi inspirasi dan pembelajaran bagi para penggiat wisata dan pelestarian alam di berbagai kawasan lindung di Indonesia.

Anda mungkin tidak pernah membayangkan, bahwa Tangkahan, kawasan ekowisata yang indah dan alami ini dulunya merupakan salah satu titik pusat penebangan liar (illegal loging) di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.

Dulu, illegal loging merupakan pendapatan utama bagi masyarakat di hutan Tangkahan. Begitu besarnya pendapatan tersebut sampai mereka mengabaikan perkebunan mereka. Namun, semakin lama keamanan hutan dan usaha penangkapan kepada penebang liar semakin diperketat dan memaksa para penebang liar ini untuk mencari penghasilan lain, yang tidak hanya berasal dari hutan namun aman dari jeratan hukum dan dapat berkelanjutan. Mereka kemudian kembali mengelola perkebunan mereka yang semula terbengkalai dan mulai untuk menjalankan ide mempromosikan ekowisata.


Masyarakat di kedua desa ini (yang dihuni oleh sekitar 2000 KK) setuju untuk mengembalikan kawasan Tangkahan sebagai kawasan wisata yang ramah lingkungan. Ini ditandai dengan dibentuknya Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) yang merupakan lembaga lokal yang dipercaya untuk mengelola ekowisata dan bekerja sama dengan pihak taman nasional, sekaligus membentuk peraturan desa.

Dan, tahukah Anda, peraturan desa ini merupakan peraturan desa pertama di Indonesia yang disusun secara partisipatif, untuk mengatur tentang konservasi dan pranata sosial secara langsung, sebelum diadopsi di berbagai daerah di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, karena objek wisata yang cukup menarik dan semuanya terdapat di dalam Taman Nasional, maka dibentuklah kesepakatan antara LPT dan Balai TNGL yang dituangkan dalam Memorandum of Understanding (MoU). Kesepakatan ini ditandatangani pada tanggal 22 April 2002 oleh Kepala Balai TNGL selaku Pemangku Kawasan untuk memberikan hak kelola Taman Nasional kepada masyarakat Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang melalui LPT.

Sebuah langkah yang sangat berani untuk dilakukan pada saat itu, mengingat MoU tersebut adalah property right (asset kolektif) untuk mengelola kawasan seluas 17,500 ha untuk dijadikan kawasan ekowisata, di mana kawasan ini merupakan zona inti taman nasional yang seharusnya tidak diperuntukkan untuk kegiatan apapun kecuali penelitian.


Sebagai kewajibannya, masyarakat desa Namo Sialang dan Sei Serdang bertanggung jawab penuh untuk menjaga keamanan dan kelestarian TNGL yang berbatasan dengan wilayah desa tersebut. MoU tersebut adalah contoh dari 'keluwesan' pemerintah dalam mengelola kawasan lindung namun tetap berpihak kepada masyarakat lokal.

Kini, acuan kolaborasi dan berbagai sistem serta strategi pengembangan kawasan Tangkahan telah banyak diadopsi baik di tingkat nasional dan internasional.

Akhirnya, pada tahun 2004, LPT mendapatkan Anugerah Penghargaan "Inovasi Kepariwisataan Indonesia" oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia.

 
Tidak berhenti di sini, di awal tahun 2006, MoU ke-2 kembali ditandatangani oleh TNGL. Dan LPT pun membentuk Badan Usaha Miliki Lembaga (BUML), berkolaborasi dengan pihak TNGL untuk mengelola berbagai jasa lingkungan di TNGL. Dari sinilah, era integrasi antara ekonomi dan ekologi di kawasan Ekowisata Tangkahan tercipta dalam semangat kolaborasi, untuk melahirkan gelombang besar perubahan di TN.Gunung Leuser.

Di Tangkahan, ekowisata merupakan cara yang terbukti efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mencegah terjadinya aktivitas ilegal loging di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.

Sejarah Tangkahan, tentunya menawarkan nuansa petualangan yang berbeda. Nah, jika Anda ingin berpetualang sekaligus melestarikan alam, Anda di tunggu di Tangkahan!, By Ronna Saab


Taman Nasional Gunung leuser


Taman Nasional Gunung Leuser merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan pantai, dan hutan hujan tropika dataran rendah sampai pegunungan.

Hampir seluruh kawasan ditutupi oleh lebatnya hutan Dipterocarpaceae dengan beberapa sungai dan air terjun. Terdapat tumbuhan langka dan khas yaitu daun payung raksasa (Johannesteijsmannia altifrons), bunga raflesia (Rafflesia atjehensis dan R. micropylora) serta Rhizanthes zippelnii yang merupakan bunga terbesar dengan diameter 1,5 meter. Selain itu, terdapat tumbuhan yang unik yaitu ara atau tumbuhan pencekik.

Satwa langka dan dilindungi yang terdapat di taman nasional antara lain mawas/orangutan (Pongo abelii), siamang (Hylobates syndactylus syndactylus), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis), harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), kambing hutan (Capricornis sumatraensis), rangkong (Buceros bicornis), rusa sambar (Cervus unicolor), dan kucing hutan (Prionailurus bengalensis sumatrana).

Taman Nasional Gunung Leuser merupakan salah satu yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir. Berdasarkan kerjasama Indonesia-Malaysia, juga ditetapkan sebagai “Sister Park” dengan Taman Negara National Park di Malaysia.


Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Gurah. Melihat dan menikmati panorama alam, lembah, sumber air panas, danau, air terjun, pengamatan satwa dan tumbuhan seperti bunga raflesia, orangutan, burung, ular dan kupu-kupu.
Bohorok. Tempat kegiatan rehabilitasi orangutan dan wisata alam berupa panorama sungai, bumi perkemahan dan pengamatan burung.
Kluet. Bersampan di sungai dan danau, trekking pada hutan pantai dan wisata goa. Daerah ini merupakan habitat harimau Sumatera.
Sekundur. Berkemah, wisata goa dan pengamatan satwa.
Ketambe dan Suak Belimbing. Penelitian primata dan satwa lain yang dilengkapi rumah peneliti dan perpustakaan.
Gunung Leuser (3.404 m. dpl) dan Gn. Kemiri (3.314 m. dpl). Memanjat dan mendaki gunung.
Arung jeram di Sungai Alas. Kegiatan arung jeram dari Gurah-Muara Situlen-Gelombang selama tiga hari.


Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu Festival Danau Toba pada bulan Juni di Danau Toba dan Festival Budaya Melayu pada bulan Juli di Medan.
Musim kunjungan terbaik : bulan Juni s/d Oktober setiap tahunnya.


Cara pencapaian lokasi: 
Medan-Kutacane berjarak ± 240 km atau 8 jam dengan mobil, Kutacane-Gurah/Ketambe berjarak ± 35 km atau 30 menit dengan mobil, Medan-Bohorok/Bukit Lawang berjarak ± 60 km atau 1 jam dengan mobil, Medan-Sei Betung/Sekundur berjarak ± 150 km atau 2 jam dengan mobil, Medan-Tapaktuan berjarak ± 260 km atau 10 jam dengan mobil.

Danau Laut Tawar


Danau Laut Tawar merupakan danau yang terbentang luas bagaikan lautan bila dilihat dengan kasat mata. Ia terletak di Propinsi paling ujung Indonesia yaitu Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Danau ini dikelilingi gunung-gunung yang tegak kokoh bagai pengawal yang selalu setia menjaga keindahannya. Tepatnya Danau Laut Tawar terletak di Takengon Kabupaten Aceh Tengah, Propinsi NAD.



Udara sejuknya memberi rasa nyaman dan membuat orang yang mengunjunginya merasa enggan meninggalkannya dan ingin berlama-lama menikmati keindahannya. Berendam didalamnya juga asyik karena pasti akan selalu ditemani ikan-ikan kecil yang penduduk disana menyebutnya ikan Depik.  Yang tak kalah asyiknya adalah berkeliling danau dengan menggunakan perahu tradisional, dan bagi yang suka berjemur pantai danau ini tak kalah dengan pantai-pantai di pinggir laut (maksudnya laut yang airnya asin lho,,). Kenikmatannya adalah berjemur dibawah terik matahari dengan udara yang sangat dingin (panas tapi dingin, nah gimana tuh,,, rasanya, sulit deh untuk diuraikan dengan kata-kata kalau tidak dialami sendiri).