Showing posts with label Sumatera. Show all posts
Showing posts with label Sumatera. Show all posts

Monday, October 31, 2011

DANAU LAU KAWAR

 

Danau Lau Kawar di Desa Kuta Gugung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, adalah satu dari dua danau di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), selain Danau Marpunge di Kutacane, Aceh tenggara.

Danau ini terletak di kaki Gunung Sinabung Tanah Karo, sekitar 50 km dari kota Medan.
Dibandingkan dengan luas Danau Toba yang mencapai 1.265 kilometer persegi, luas Danau Lau Kawar yang hanya 200 hektar memang tak ada apa-apanya. Tetapi, Lau Kawar sebenarnya memiliki pesona tersendiri yang tidak kalah indahnya dibandingkan dengan Toba yang sudah mendunia.

 
Air danau yang bening dan tenang, serta udara yang sejuk, adalah sambutan pertama saat mencapai danau ini. Keindahan akan kian terasa saat berdiri di tepi danau. Selain air jernih dan tenang, rimbunan pepohonan mengelilingi danau ini adalah pesona tersendiri. Di tengah gencarnya pembabatan liar, ternyata masih ada hutan yang relatif lestari.
Danau ini merupakan salah satu pintu gerbang utama para pendaki untuk mencapai puncak Gunung Sinabung yang memiliki ketinggian 2.451 meter dpl. Selama ini gunung tertinggi di Sumut ini merupakan salah satu gunung favorit bagi para pendaki.
 
 
Di samping itu, Deleng (bukit) Lancuk yang berada di sekitar Danau Lau Kawar bisa juga menjadi jalur tracking yang menawan bagi para pelancong yang tak ingin bersusah-susah mendaki Sinabung. Dan tanah lapang di sekitar danau bisa menjadi tempat favorit untuk menginap dengan mendirikan tenda selama pendakian ke Gunung Sinabung.
 

Monday, January 10, 2011

Danau Kerinci

DANAU Kerinci memiliki luas 4.200 hektar dengan kedalaman 110 m dan terletak pada ketinggian 783 meter dpl. Danau ini menyimpan banyak jenis ikan. Ikan Semah merupakan jenis yang paling digemari dan merupakan ikan endemik. Danau Kerinci terletak pada dua Kecamatan yaitu Kecamatan Danau Kerinci dan Kecamatan Keliling Danau.
Terdapat beberapa lokasi yang menarik pada beberapa desa disekitar Danau Kerinci, yaitu Daerah Pesanggarahan dimana kita bisa melihat pemandangan Danau Kerinci dari atas, Tanjung Hatta adalah tempat Bung Hatta menikmati panorama Danau Kerinci dan menanam pohon disana, Desa Seleman terdapat Rumah Laheik yang merupakan rumah khas kerinci, dan di Desa Pulau Tengah terdapat Dolmen Batu Raja dan Masjid Keramat Pulau Tengah dan di sekitar danau Kerinci terdapat sejumlah batu berukir yang diduga peninggalan manusia megalit.
Pada tiap tahunnya, di Danau Kerinci diadakan Festval Danau Kerinci yang menampilkan berbagai macam atraksi seni masyarakat lokal. Festival Danau Kerinci adalah salah satu usaha pemerintah daerah untuk mempromosikan wisata Danau Kerinci, namun usaha tersebut tidak begitu efektif walau sudah menelan dana yang tidak sedikit.
 Danau Kerinci adalah salah satu tempat wisata yang ada di Kab. Kerinci dari sekian banyak lokasi tempat wisata yang sangat indah yang membutuhkan perhatian besar kita semua untuk dapat berkembang sehingga menarik minat para wisatawan domestic maupun internasional untuk datang, sehingga dapat menjadi salah satu tempat tujuan wisata kebanggan Indonesia pada umumnya.

Wednesday, November 10, 2010

Air Terjun Guruh Gemurai




Kalau berbicara mengenai air terjun pasti di dalam benak kita akan menggambarkan tempat yang sejuk,dingin dan mengasyikkan. Nah,oleh karena itu tidak salah kalau saya akan menyuguhkan obyek wisata alam air terjun Guruh Gemurai.
    
Guruh Gemurai adalah sebuah nama yang diambil dari bahasa daerah setempat. Guruh berarti gemuruh dari suara air tejun. Sedangkan Gemurai adalah suara percikan air yang berserakan. Maka Guruh Gemurai diartikan adalah air terjun yang bergemuruh dan mempunyai percikan.
 
Air Terjun Guruh Gemurai terletak di Kecamatan Kuantan Mudik (Lubuk Jambi), tepatnya di Desa Kasang. Anda bisa mencapainya dengan kendaraan pribadi dan kendaraan umum. Jaraknya dari Taluk Kuantan ibu Kota Kab.Kuansing sekitar 25 kilometer ke arah Kiliran Jao (perbatasan Sumbar-Riau). Anda akan melewati Pasar Tradisional Lubuk Jambi, lalu menemukan dua jalan yang bercabang dua, pilihlah jalan sebelah kiri nan menanjak, daerah ini namanya Desa Koto (Kote Ate), melewati jalan sedikit berkelok, lima menit perjalanan anda akan sampai ke Desa Kasang, dan teruskanlah perjalanan anda sepuluh menit lagi, maka takkan lama anda akan bertemu dengan gerbang di sebelah kanan jalan raya yang bertuliskan Selamat Datang di Objek Wisata Air Terjun Guruh Gemurai. Sampai saat ini tarif masuk ke obyek wisata ini sesuai dengan Peraturan Bupati telah diatur oleh Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Kuantan Singingi, yakni Rp. 1000 untuk untuk kendaraan roda dua, Rp. 1.500 untuk kendaraan roda empat, Rp. 3000 untuk orang dewasa dan Rp. 1000 untuk anak-anak.
   Air Terjun ini banyak di kunjungi wisatawan pada saat liburan,biasanya hari sabtu dan minggu rame di kunjungi oleh pengunjung yang ingin menikmati kesejukan air Terjun Guruh Gemurai.
 

Tanjung Tinggi (Bangka Belitung)


Tanjung tinggi adalah pantai yang diapit oleh dua semenanjung. Pantai ini berpasir putih, dan unik karena terdapat ratusan batu granit besar yang tersebar di kedua semenanjung dan juga di laut di depan pantai. Ukuran granit mulai dari beberapa meter kubik hingga ratusan meter kubik lebih besar dari sebuah bangunan sebesar rumah. Anda bisa naik, berjalan dan melompat diantara granit untuk menikmati pemandangan eksklusif dari setiap sudut anda berdiri. Bentuk dari batu-batu besar itu juga unik, sebagian membentuk gua, yang dapat digunakan berteduh selama hujan. Batu-batu itu bertumpuk satu sama lain membentuk obyek yang menarik sebagaimana secara jelas anda bisa lihat dari foto-fotonya.

Batu-batu tersebut terletak diatas pasir putih. Sebagaimana anda lihat dari foto, anda bisa berjalan diatas pasir putih diantara batu dan air laut yang jernih. Pasir putih ada dimana-mana sepanjang pantai. Anak-anak akan sangat suka bermain disana. Karena ombak tidak besar, air lautnya jernih dengan permukaan bawah laut yang berpasir, anak-anak akan sangat suka bermain di pantai. Anda tidak perlu khawatir dengan serangan ikan hiu, karena tidak pernah terjadi di Belitung. Satu-satunya yang kadang-kadang harus diwaspadai adalah ubur-ubur, khususnya yang besar.

Tanjung tinggi juga dinamakan Pelabuhan Bilik. Dahulu tempat ini adalah pelabuhan nelayan bagi desa terdekat Keciput atau Tanjung Tinggi. Ada paling tidak dua puluh rumah makan seafood sederhana di sepanjang pantai. Ini adalah tempat untuk anda beristirahat sejenak, minum kopi atau memesan makan siang. Menu utama adalah makanan laut. Hanya saja, jangan berharap anda mendapatkan pelayanan sekelas restoran di mall. Mereka hanya orang-orang biasa dari desa yang membuka restoran sederhana. Jangan khawatir, masyarakat di sana selalu ramah pada semua tamu, sama seperti umumnya orang Indonesia.

Saran saya, setelah anda check-in di hotel, pergilah ke Tanjung Tinggi. Dengan cara ini, anda bisa menikmati keindahan pantai dalam cuaca yang cerah, untuk menghindari kemungkinan hujan di waktu sore. Jika anda tiba di sana, mampir saja di salah satu restoran seafood di sana. Menu di tiap restoran sama, saran saya pilih tempat yang banyak pengunjungnya karena biasanya masakannya lebih enak, jika anda ingin bersantap siang di sana. Kalau tidak minum kelapa muda juga sangat mengasyikkan. Restoran biasanya menyediakan fasilitas sederhana untuk mandi dan membersihkan badan dari air asin setelah berenang di pantai.

Percayalah, begitu anda tiba di sana, anda tidak akan sabar untuk berlari ke pantai dan merasakan halusnya pasir putih dengan ombak yang menyapu pantai dengan lembut. Anda akan berjalan-jalan sepanjang pantai, dan karena penasaran, anda akan menuju batu-batu granit dan memulai petualang dengan melompat diantara bebatuan granit, atau berjalan diantara batu-batu yang besar. Semakin anda mengitari sudut-sudut pantai, semakin bisa melihat keindahan panorama pantai ini. Total panjang pantai kira-kira 1.2km, tapi anda bisa berjalan lebih jauh lagi karena sepanjang pantai pasir tetap putih.
 
 

Sunday, October 31, 2010

Pulau Cubadak

Kawasan Cubadak pada mulanya adalah bekas kawah dengan luas sekitar 40 km persegi. Pulau ini tidak berpenduduk, kecuali hanya segelintir rumah nelayan sebagai tempat persinggahan saat kemalaman melaut, dan dipenuhi hutan lebat. Sejumlah satwa burung dan binatang liar seperti monyet, rusa, babi hidup di sini. Cubadak merupakan salah satu dari puluhan pulau kecil di lepas pantai Sumatra Barat.
Sebenarnya ada banyak pulau kecil yang berpotensi besar di kawasan ini. Diantaranya Mentawai, Sipagang, Sikuai, Pasumpahan, Sirandah, Penyu, dan lain-lain. Sayangnya baru Cubadak dan Mentawai yang sudah digarap dan dipromosikan dengan baik.

Pulau Cubadak yang namanya telah mendunia dan menjadi ikon Kabupaten Pesisir Selatan ini memiliki luas wilayah 5.749 km persegi dan berada 0-1.000 meter di atas permukaan laut. Dengan posisi memanjang dari utara ke selatan di bagian barat Sumatra Barat, Pesisir yang memiliki 218 km panjang pantai memang memiliki potensi di bidang pariwisata.


Kawasan Cubadak pada mulanya adalah bekas kawah dengan luas sekitar 40 km persegi. Pulau ini tidak berpenduduk, kecuali hanya segelintir rumah nelayan sebagai tempat persinggahan saat kemalaman melaut, dan dipenuhi hutan lebat. Sejumlah satwa burung dan binatang liar seperti monyet, rusa, babi hidup di sini.
Panjang pantainya lebih 1,5 km dan lahan yang dikuasai pengelola Cubadak adalah sekitar tujuh hektar. Jika Mentawai adalah surga para peselancar, maka Cubadak adalah surga para penyelam karena dasar laut yang mengelilingi pulau ini ditumbuhi terumbu-terumbu karang yang indah dan ikan hias warna-warni.


Di antara wisatawan Eropa lainnya, orang Jerman termasuk yang cukup antusias berkunjung ke pulau yang dijuluki Paradiso Village ini. Semua itu tak lepas dari promosi gencar dari sejumlah media di Jerman tujuh tahun yang lalu. Saat itu, satu tim TV Bavarian datang ke Cubadak untuk menggarap sebuah film dokumenter. Mereka melakukan pengambilan gambar dari berbagai sudut untuk menggambarkan keindahan Cubadak.

Setelah diputar di Jerman, film berdurasi 30 menit itu mendapat sambutan yang luas dan mampu menjadi magnit bagi orang Jerman untuk datang ke Cubadak. Ratusan telepon pun masuk ke stasiun TV tersebut. Mereka umumnya menanyakan bagaimana perjalanan ke Sumatra Barat, Indonesia. Sebab selama ini mereka hanya mengenal Bali atau Lombok.
 
Selain itu, sejumlah media cetak saat itu juga menulis artikel panjang soal pulau “surga” ini. Majalah wanita Bild de Rau misalnya, memuat tulisan berjudul “Pulau Tersenyap di Dunia” dan koran Munchener Abendpost menulis “Bagaimana Mencapai Pulau Cubadak”.

Menurut Tom Plummer, pengelola kapal pesiar berkebangsaan Australia yang sudah lama berdomisili di Padang, banyak sekali wisatawan asing yang awalnya tidak menyangka keistimewaan Pulau Cubadak. Bahkan tak jarang para wisatawan yang datang ke Sumatra Barat pada awalnya mengeluhkan perjalanan dari Bandara Tabing ke Carocok yang lumayan melelahkan karena jalannya berbelok-belok dan banyak tikungan. “Tapi begitu sampai di Pulau Cubadak, mereka akan kaget betapa indahnya pulau ini dan sama sekali tidak menyesal pernah ke sana,” ujar Tom.

Tom yang kini juga mengelola sebuah toko olahraga di Jalan Hiligoo Padang bahkan berani mengatakan bahwa orang yang datang ke Cubadak pasti akan terkesan. Paduan olahraga air sambil menikmati kesenyapan pulau ini bakal menimbulkan kerinduan yang akan membuat pengunjung ingin kembali lagi ke sini. Nah untuk membuktikannya rasanya Anda mesti berkunjung ke sana sendiri.

Penulis : Budi Putra
Sumber : Tempo News Room

Pulau Rubiah ,Sabang

 dermaga di pulau rubiah

Pulau Weh mempunyai keunikan dan keindahan akan kecantikan alami dan tempat-tempat sejarah. Selain daripada meriam-meriam dan benteng-benteng kuno, masih banyak lagi obyek masa lalu yang menarik. Beberapa tempat menarik adalah sebagai berikut.

Bagi anda yang pertama kali datang ke Banda Aceh dan ingin menggunakan jalur perairan, anda bisa menuju ke Pelabuhan Ulee Lheue. Setiap harinya, dua kali feri cepat dan sekali feri lambat berangkat dari Banda Aceh ke Pelabuhan Balohan, Sabang. Feri kapal cepat berangkat sekitar pukul 09.30 WIB dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Untuk feri lambat, menghabiskan waktu sekitar 2 jam dengan jam keberangkatan 10.30 WIB. Untuk jalur darat, anda bisa menggunakan minibus umum untuk menuju ke Pantai Iboih sekitar 1 jam perjalanan dengan kondisi jalan yang sudah beraspal. Setelah itu, anda bisa menyewa boat ke Rubiah dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.

Informasi jadwal speedboat :
Berangkat dari Balohan jam 08.30 dan dari Ulee Lhue jam 15.00
Harga tiket sekarang sudah naik Rp.10.000,- dari semula :
Ekonomi dari Rp.40.000,- menjadi Rp. 50.000,-
Executive dari Rp. 50.000,- menjadi Rp. 60.000,-
VIP dari Rp.70.000 menjadi Rp.80.000,-
Berangkat dari Ulee Lhue jam 09.30 dan 16.00

Lokasi pelabuhan di Banda Aceh terdapat di Ulee lhue dan di krueng Raya(khusus kapal barang)


Pulau Rubiah di Sabang, Aceh

Pulau yang luas perairannya mencapai 2.600 ha ini menawarkan indahnya alam bawah laut dan wisata bahari yang masih alami. Pulau ini dikenal sebagai surganya taman laut karena bentuknya yang seperti akuarium raksasa. Di dalamnya terdapat berbagai macam jenis ikan tropis, terumbu karang, kerang raksasa, dan masih banyak lainnya. Terumbu karang disini terdiri dari berbagai jenis, bentuk dan warna yang membentuk gugusan karang yang menarik. Untuk menuju ke kawasan ini, bisa menempuh jalan darat atau perairan menggunakan perahu nelayan. Jika menggunakan perahu, anda bisa menumpang kapal yang sudah disediakan (disewakan) oleh warga setempat.

Kapal yang disediakan berupa speedbot atau kapal yang telah dilengkapi dengan kaca untuk melihat keindahan isi laut di sekitar Pulau Rubiah. Harga sewa boat mulai dari Rp 250.000 – 300.000 hingga kembali ke daratan di Iboih. Jika berkelompok, tentu ongkos sewa boat tidak terlalu berat. Tiap boat bisa menampung 10 orang penumpang.

penginapan di kawasan pulau rubiah

Taman Laut Rubiah
Taman Laut Rubiah terletak sekitar 23,5 km sebelah barat kota Sabang, dapat dicapai melalui darat, atau sekitar 7 km dengan menggunakan perahu boat, dan terletak bersebelahan dengan desa Iboih. Pemerintah Indonesia telah menentukan daerah perairan ini, sekitar 2600 hektar sekitar pulau Rubiah sebagai daerah special nature reserve. Terletak di teluk Sabang, dimana air disini relatif tenang dan sangat jernih (25 m visibility) laut disini diisi oleh bermacam trumbu karang dan ikan bermacam warna. Dapat ditemukan gigantic clams, angel fish, school of parrot fish, lion fish, sea fans, dan banyak lagi.

pesona bawah air

penghuni terumbu karang


spot diving dan snorkling

Wednesday, October 27, 2010

Gunung Dempo Keindahan Alam yang Tersembunyi di Pagaralam






Gunung Dempo merupakan sebuah gunung yang terdapat di pulau Sumatera, Indonesia. Gunung Dempo mempunyai ketinggian setinggi 3,195 meter.

Gunung Dempo mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Gunung Dempo (3159 mdpl) terletak di perbatasan propinsi Sumatera Selatan dan propinsi Bengkulu. Untuk mencapai desa terdekat, terlebih dahulu anda harus mencapai kota Pagar Alam, kurang lebih 7 jam perjalanan darat dari Palembang. Dari ibukota Sumsel ini tersedia banyak bus ke arah Pagar Alam, salah satunya dengan menggunakan bus Dharma Karya. Atau apabila anda dari Jakarta, sebelumnya dapat menumpang bus jurusan Bengkulu atau Padang, dan turun di Lahat.

Kota Pagar Alam, memang sesuai dengan namanya, kota ini jelas dikelilingi barisan pegunungan Bukit Barisan dan yang tertinggi dari barisan tersebut adalah Gunung Dempo. Gunung ini sangat indah menjulang tegak menggapai langit nan biru apabila dilihat pada pagi hari. Oleh karena itu sangat tepat bila bermalam dulu di kota ini, disini banyak tersedia losmen atau motel, berkisar Rp20 ribu semalam. Budaya kota yang sudah berbaur dari berbagai suku baik pendatang maupun asli menciptakan kedamaian yang anda tidak peroleh di kota-kota besar. Dari terminal Pagar Alam, terlebih dulu mencarter mobil/taksi untuk jurusan Pabrik Teh PTPN III yang jaraknya mencapai 15 KM dari terminal. Di Pabrik ini ada baiknya anda berkenalan dengan seseorang yang biasa dipanggil pak Anton, beliau termasuk yang dituakan oleh para pencinta alam seantero Sumsel-Lampung. Dengan meminta bantuannya, mobil carteran akan membawa anda ke desa terdekat dari kaki gunung Dempo, yang dapat memakan waktu lebih dari 20 menit, karena jalannya cukup terjal, berkelok dengan melewati hamparan kebun teh nan hijau.

Jalur menuju ke puncak gunung inipun sudah sangat jelas dan bahkan di hari-hari biasa pun banyak orang desa yang sengaja naik ke puncak baik itu untuk mencari kayu ataupun sekedar berhiking ria. gunung ini memang cukup tinggi tetapi air jernih yang ada terdapat sampai setengah perjalanan ke gunung ini sehingga para pendaki tidak perlu khawatir kehabisan air minum selama perjalanan. Sebuah kali kecil yang jernih, mengalir di perbatasan hutan pertanda kita mulai memasuki daerah hutan yang ditumbuhi dengan tumbuhan yang mirip seperti yang kita dapati di gunung Gede-Pangrango, yaitu hutan montana. Jalan setapak penuh dengan akar-akar yang melintang, kemiringan lereng sendiri cukup curam untuk memeras keringat. Tidak ada tanda-tanda khusus, keadaan hutan ini hampir homogen dan sangat hening.

Empat atau lima jam kemudian, kita akan memasuki daerah dengan vegetasi tumbuhan berpohon rendah dan semakin rendah, beberapa daerah agak terbuka, pandangan pun menjadi luas. Gunung Dempo memiliki dua puncak yang satunya bernama puncak api. Menjelang puncak pertama Dempo yang merupakan dataran masif, Puncak pertama ditumbuhi tanaman yang rendah mirip perdu. Dari puncak pertama ini kita turun kembali kelembah yang diapit oleh puncak pertama dan puncak utama. Dilembah ini terdapat sebuah sumber mata air mengalir disini. Hanya airnya yang jernih ini sedikit kecut rasanya, mungkin pengaruh rembesan belerang.
Pendakian kepuncak utama tidak terlalu sulit. Lerengnya terdiri dari kerikil dan batu-batu dengan kemitingan lereng sekitar 40°, cukup stabil untuk didaki. Puncak utama gunung Dempo (3158 m), Merupakan kawah gunung berapi yang masih bergejolak dengan diameter sekitar seratus meter persegi. Dinding kawah cukup terjal dan tidak mungkin bisa dituruni tanpa batuan tali temali. Pemandangan dari puncak cukup mengasyikan. Selain kawah yang memberikan kesan khusus, tampak juga terhamparan propinsi Bengkulu dengan Lautan Hindia dengan hamparan lembah yang sunyi dan hening. Perjalanan turun hanya memakan waktu dua jam. Bila kemalaman anda bisa menginap di Dusuun VI, dengan terlebih dahulu minta izin kepala keamanan di sana. Disini juga memproduksi teh hitam alami.




Wednesday, October 20, 2010

Deburan Ombak Pantai Tanjung Setia


Pantai Tanjung Setia terletak di Desa Tanjung Setia, Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Lampung Barat, Propinsi Lampung, Indonesia. Pantai Tanjung Setia berjarak sekitar 52 km dari Kota Liwa, Ibukota Kabupaten Lampung Barat.
 

Posisi Pantai Tanjung Setia yang strategis, yang letaknya berdekatan dengan jalan raya menyebabkan dapat dengan mudah dikunjungi oleh wisatawan. Wisatawan asing yang datang ke pantai ini banyak yang berasal dari Negara Amerika, Negara Australia dan Negara Eropa lainnya, mereka mendapatkan informasi tentang pantai ini melalui informasi yang disampaikan oleh teman atau kenalan mereka yang sudah datang lebih dahulu ke pantai ini dan juga informasi tersebut mereka dapat melalui website yang dibuat oleh para pencinta selancar sedunia, mereka biasanya tinggal disini seminggu hingga sampai dua minggu lamanya.


Kegiatan Wisata Di Pantai Tanjung Setia
Kegiatan wisata yang dapat dilakukan antara lain adalah berselancar, menyelam, berenang, berperahu, memancing, berjemur di pantai, berjalan sepanjang pantai, bermain-main ditepi pantai, berkemah, outbond. Ketika sore hari, wisatawan dapat menyaksikan matahari yang akan terbenam (sunset).

Pantai Tanjung Setia sudah cukup dikenal dikalangan orang barat, sehingga pada bulan-bulan tertentu ketika ombak di Pantai Tanjung Setia mencapai ketinggian puncaknya, pantai ini dipadati oleh turis asing untuk melakukan kegiatan surfing.

Ketinggian ombak di Pantai Tanjung Setia pada bulan Mei hingga bulan Agustus dapat mencapai ketinggian hingga 7 meter, sehingga para peselancar merasa sangat tertantang untuk menjadi peselancar terbaik, sedangkan di bulan lain tinggi ombaknya rata-rata 4 meter dengan pecahan ombak sepanjang 200 meter. Kondisi laut pantai ini masih alami, belum tercemar dan udaranya sangat sejuk, suasananya tenang dan damai serta jauh dari kebisingan.
 
Deburan ombaknya menggelitik sanubari, sehingga membuat para peselancar tidak ingin melewatkan kesempatan untuk berselancar di Pantai Tanjung Setia ini. Deburan ombaknya tidak kalah dengan pantai yang ada di Pulau Nias dan Pulau Bali, tidak berlebihan jika Pantai Tanjung Setia dijuluki sebagai pantai mutiara terpendam.
 

Disamping itu pantai ini dikenal juga sebagai tempat wisata memancing, dimana banyak terdapat ikan laut seperti ikan tuna dan ikan blue marlin. Temperatur udara di kawasan pantai ini berkisar antara 29° C sampai dengan 33° C.


Fasilitas Yang Tersedia Dikawasan Pantai Tanjung Setia
Tersedia tempat penginapan, cottage.

Objek Wisata Pantai Lainnya Di Lampung Barat
Objek wisata pantai lainnya diantaranya adalah Pantai Labuhan Jukung, Pantai Way Haru, Pantai Way Jambu, Pantai Way Sindi, Pantai Suka Negara. 

Sunday, October 17, 2010

Dataran Tinggi Gayo – Aceh Tengah


Kota Takengon yang berada di dataran tinggi Gayo, merupakan kota tujuan wisata di Nanggroe Aceh Darussalam. Keindahan alamnya seperti tersembunyi karena berada di tengah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Objek wisata alam yang terkenal di sana adalah Danau Laut Tawar, yang menjadi kebanggaan masyarakat Takengon. Sebagian aktivitas masyarakat sekitar danau adalah sebagai nelayan. Ikan Depik [Rasbora Tawarensis], merupakan ikan khas danau laut tawar Aceh Tengah.
 

Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang ke Takengon, mengunjungi dan menginap di sekitar Danau Laut Tawar. Selain objek wisata Danau Laut Tawar, terdapat tempat-tempat wisata lainnya di Kota Takengon, seperti Gua Puteri Pukes, Pantang Terong, pemandian air panas Wih Pesam, Bukit Terong (Puncak Khafi), Goa Loyang Koro, Pantai Menye, Pantai Ketibung dan Monumen Pacuan Kuda Tradisional [Evant ini biasanya dilakukan pada saat hari kemerdekaan]. Setidaknya ada 20 objek wisata yang dapat dikunjungi di Kota Takengon. Khusus mengenai perlombaan pacuan kuda, para jokinya biasanya anak usia sekolah. Mereka secara alami terlatih dan berani tanpa menggunakan pelana, yang hanya memakai kaus dan celana pendek berkuda dengan kencang.


Penduduk asli Takengon adalah Suku Gayo. Mereka merupakan keturunan dari Batak Karo di Sumatera Utara. Bahasa daerahnya pun berbeda dengan bahasa daerah penduduk Aceh pada umumnya. Kota Takengon berhawa sejuk dengan keindahan alamnya yang luar biasa, dan berada di kawasan dataran tinggi Gayo. Komoditi-komoditi unggulan yang dipasarkan di Kota Takengon adalah komoditi-komoditi yang berasal dari dataran tinggi Gayo, seperti kopi Gayo (kopi arabika) yang terkenal yang diekspor ke Jepang, Amerika dan Eropa, tomat, markisa, sayur-sayuran, jagung, cabe dan kentang. markisa, tomat, cabe, jagung, sayur-sayuran, jeruk keprok Gayo, alpukat, tembakau dan damar.


Untuk mecapai lokasi ini, bisa ditempuh dari dua wilayah, 1). Banda Aceh, Dari terminal di banda aceh bisa dengan Travle [L300] dengan biaya sebesar 75.000 rupiah langsung ke takengon. Perjalanan kurang lebih sekitar 6-7 jam perjalanan. 2). Via Medan, dari polonia naik ojek atau taxi kearah jalan gajahmada, ongkos untuk Ojek Sekitar Rp. 25.000 – 30.000, dengan Taxi bisa mencapai Rp. 45.000 – 55.000. Dijalan gajahmada cukup banyak Perusahaan bus yang menyediakan jasa angkutan sampai Takengon. Biaya yang diperlukan untuk ke takengon dari medan sekitar Rp. 150.000 [Bus Cepat Bangku 2:1] saya merekomendasikan naik CV. Kurnia. Kenapa? Armadanya baru-baru, aman, lancar dan nyaman banget.

Setiba di takengon, cukup banyak losmen murah, dengan harga kisaran Rp.80.000 - 150.000 per malam, ada juga Hotel yang lumayan mahal, kisaran harga Rp. 250.000 - 400.000 [Ringgali]. Dan berikut ini adalah foto2 keindahan dataran tinggi gayo. Sebagai catatan, foto ini menggunakan kamera Canon 350D, Lensa Tokina 12-24, Filter Hoya UV Rim 77MM, Tripot UFU 260.

Eksotika Pulau Sabang


Pulau Weh atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pulau Sabang terletak di kawasan paling barat di Indonesia. Terletak di sebelah utara pantai barat provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, kurang lebih 35 mil dari ibukota provinsi, Banda Aceh. Penduduk pulau ini berjumlah kurang lebih 24 ribu jiwa. Mata pencaharian mayoritas penduduk setempat adalah nelayan dan pegawai negeri. Beberapa tempat tujuan pariwisata di pulau ini antara lain adalah Iboih, Keuneukai, Gapang, Ujong Kareung dan tempat pemandian air hangat Anoi Itam serta pantai sumur tiga. Taman laut di pulau ini memiliki terumbu karang yang mengelilingi pulau kecil bernama Rubiah. 


Taman rekreasi Iboih terletak di pantai barat pulau Weh. Taman tersebut memiliki hutan pantai dan hutan tropis dataran rendah. Di daerah Ukong Murong (daerah sekitar Iboih), terdapat sebuah gunung berapi kecil, air terjun dan gua yang dihuni oleh burung, kelelawar dan ular. Selain Keindahan bahari, Pulau Weh memiliki tugu NOL Kilometer. Titik kilometer nol yang terdapat di pulau Weh ini sebenarnya bukanlah merupakan titik paling barat Indonesia. Pulau yang terletak di ujung paling barat Indonesia adalah Pulau Rondo. Namun dikarenakan pulau Rondo tidak berpenghuni, maka tugu kilometer nol dibangun di pulau Weh.


Kota Sabang terletak di pulau ini. Di pulau ini juga terdapat tugu kilometer nol sebagai tanda kilometer nol sebagai hasil pengukuran dari Badang Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Tugu ini terletak di ujung barat pulau Weh dan diresmikan Wakil Presiden Try Sutrisno pada tanggal 9 September 1997. Posisi tugu berada di atas bukit yang tubirnya berada persis di tepi laut, 29 km dari pusat kota Sabang. Atau tepatnya, tugu itu berada di desa Iboih, kecamatan Sukakarya Ujung Ba'u. Dari titik kilometer nol ini, seseorang bisa langsung melihat ke laut lepas. 


Dapat dilihat juga tiga buah pulau kecil yang sebelum tsunami merupakan satu kesatuan. Pada tahun 1970-an, pemerintah menetapkan Sabang sebagai salah satu pelabuhan bebas bea (free trade zone) di Indonesia dan hal ini sempat membuka kegiatan di Sabang menjadi marak kembali. Namun pada tahun 1986 status Sabang sebagai pelabuhan bebas bea dihapuskan dan kota ini kembali menjadi kota nelayan. Sesuai dengan informasi yang saya terima dari penduduksekitar satu-satunya kegiatan ekonomi, selain penangkapan ikan (nelayan), yang terdapat di Pulau Weh adalah kerajinan perabotan dari rotan.


Untuk menuju Pulau Sabang, di tempuh dengan jarak ± 45 Menit dari Dermaga Ule Lheu Kota Banda Aceh, dengan menggunakan Kapal Cepat dengan ,jam keberangkatan adalah jam 09.00 (Kapal Pulo Rondo) dan jam 15.00 (Kapal Baruna Duta) dengan tarif Ekonomi : Rp.60.000 dan VIP Rp. 75.000. Atau bisa juga dengan Kapal Lambat KMP BRR dengan Biaya 25.000 Untuk kelas Ekonomi dan 40.000 Kelas VIP. kalau saya milih yang ekonomi, lebih murah dan bisa di Dak Kapal. Lebih asik menikmati suasana perjalanan. Dengan KMP BRR perjalanan di Tempuh sekitar 2 Jam. Setiba di Balohan (Dermaga Pulau Sabang), sudah menunggu beberapa angkutan umum seperti taxi dan ompengan lain, untuk menuju kota sabang, perorang akan di pungut biaya sebesar Rp. 30.000 kita akan diantar ke lokasi yang akan kita tuju. 

Untuk yang baru pertama kali ke pulau ini, tidak usah kuatir, pengendara akan mengantar anda ke Hotel di pusat kota atau tempat lain sesuai dengan keinginan kita. Tentu akan ada renegosiasi ulang untuk ongkos antarnya.


Tuesday, October 5, 2010

The Hidden Paradise Lampung Barat

Kabupaten Lampung Barat memiliki kondisi alam yang beragam mulai dari alam pegunungan, danau, dan pantai. Semua potensi itu dapat dikembangkan untuk menunjang Kepariwisataan Lampung Barat. Tanggal 8-11 Juli lalu saya dan teman-teman Pecinta Fotografi Lampung atas undangan Dinas Pariwasata Kabupaten Lampung Barat mengadakan perjalanan ke Lampung Barat untuk menyaksikan “Semarak Wisata Tanjung Setia III” dan “Festival Teluk Stabas XIII”. Pesona Lampung Barat memukau mata kami, mulai dari indahnya kondisi alam, adat dan nilai budaya yang masih asli berjalan beriringan dengan peradaban modern (ini yang saya suka dari penduduknya, selain ramah mereka tetap menjunjung tinggi adat istiadat di tengah modernisasi peradaban). Semarak Wisata Tanjung Setia merupakan acara yang diadakan pemerintah setempat untuk memperkenalkan wisata di Tanjung Setia terutama mempromosikan daerah tersebut sebagai lokasi surfing . Pada Festival Teluk Stabas diadakan berbagai lomba yaitu :
  1. Lomba Bedikikh
  2. Lomba Butetah
  3. Lomba Hahiwang
  4. Lomba Gambus Tunggal
  5. Lomba Ngehahaddo/Mahafan
  6. Lomba Lagu Pop Lampung
  7. Lomba Tari Kreasi Lampung
  8. Lomba Volly Pantai
  9. Lomba Layang-layang
  10. Lomba Foto Pariwisata dan Budaya


Setibanya kami di Lampung Barat kami awali dengan mengunjungi Pantai Tanjung Setia (untuk hunting foto tentunya :p). Tak kalah dengan Bali, pantai yang berada di Kecamatan Pesisir Selatan berjarak 52 Km dari Ibu Kota Liwa atau sekitar 293 Km dari Bandar Lampung ini menjadi lokasi surfing bagi wisatawan mancanegara (wisman) dari Australia, Amerika dan negara Eropa lainnya, selain itu pantai di Kawasan Tanjung Setia juga dikenal sebagai tempat berwisata memancing yang kaya ikan laut mulai tuna hingga blue marlin. Juga, sebagai tempat berkemah, apalagi ada cottage yang representatif bahkan alami lantaran bangunannya menyatu dengan alam. Rata-rata wisatawan asing yang memilih surfing sini beralasan di Bali sudah terlalu ramai/padat, dan masyarakat di Lampung Barat masih natural (penduduk asli).


Keesokan paginya 10 Juli 2010 usai adzan subuh kami (rombongan pecinta fotografi) menuju daerah Pasar Ulu Krui untuk berburu foto kegiatan penduduk/nelayan di kawasan pesisir. Pasar Ulu Krui memiliki karakter pantai dengan pasir hitam, berbeda dengan Tanjung setia dengan pasirnya yang putih. Landscape dan Human Interest sangat menarik di daerah ini (tidak sia-sia saya pergi jauh dari kota untuk berburu foto :P) apalagi bagi para pecinta fotografi seperti kami.


Waktu menunjukkan pukul 08.30 saatnya kami kembali ke homestay masing-masing untuk mandi dan sarapan (maklum karena bangun pagi sekali kami belum sempat mandi & sarapan karena takut ketinggalan sunrise :-D). Lalu kami lanjutkan kembali menuju pantai Tanjung Setia untuk melihat Opening Ceremony Semarak Wisata Tanjung Setia III 2010 (saya hampir telat di acara ini karena menunggu teman yang antri untuk mandi). Acaranya begitu meriah tari Sekura yang disuguhkan begitu meriah dan penuh warna. Rangkaian acara dilanjutkan dengan Pelepasan Tukik ke laut (Tukik = anak penyu) sebagai kegiatan simbolis untuk pelestarian penyu. Kebetulan bertemu dengan penjual Kopi Luwak yang berasal dari Liwa saya dan beberapa teman dapat bonus dari penjual untuk mencicipi kopi Luwak asli Liwa (tapi setelah saya membeli seperempat kilogram kopi tersebut dengan harga Rp.150.000,- tentunya). jauh lebih murah ketimbang kalau sudah dijual di Starbucks :p.


Mumpung kami masih berada di Lampung Barat, kamipun menjelajah sampai ke Pesisir Utara. Sampailah kami di daerah yang bernama Tebakak. Pantai di Tebakak memiliki karakter berbatu karang yang besar dan tajam (tidak seperti Belitong yang bulat dan sangat besar). Tentunya kami tidak melewatkan kesempatan untuk hunting foto (lagi) :p. Setelah hari hampir gelap kami kembali menuju Cottage Karang Nyimbor di Pantai Tanjung Setia untuk makan malam dan menghadiri Beach Party (tapi saya memilih kembali ke homestay untuk istirahat tidak ikut Beach Party, maklum tidak biasa begadang :D)


Keesokan harinya, Minggu 11 Juli 2010 kami berangkat menuju penginapan berikutnya (Wisma Sindalapai) di Liwa yang merupakan Ibukota Lampung Barat sekitar 2 (dua) jam dari Tanjung Setia. Tak lama mampir di wisma untuk istirahat sebentar dan meletakkan tas pakaian, kami menuju Seminung Lumbok Resort di Danau Ranau. Mulanya tidak ada renacana ke Danau Ranau tapi karena salah satu teman kami belum pernah kesana maka kami putuskan untuk menuju Danau Ranau dengan menempuh sekitar 1 jam lebih perjalanan. Salah satu yang membuat saya kangen untuk datang kembali ke Danau Ranau yaitu udara sejuknya dan pemandangan saat perjalanan menuju danau diantara Pegunungan dan puncak Seminung yang menjulang tinggi dengan indah dan megah.


Hari hampir gelap, kami bergegas kembali ke Liwa karena takut ketinggalan acara Grand Closing Festival Teluk Stabas XIII di halaman depan Islamic Centre Liwa. Acaranya begitu meriah dengan suguhan tari kreasi Payah Duakha. Tari ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi di Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung pada zaman generasi ke-20, sekitar tahun 1899. Kemudian dimeriahkan juga oleh Inka Mamamia (Juara Mamamia 2010) yang kebetulan berasal dari Lampung.


Senin 12 Juli 2010 matahari belum terbit, saatnya kami harus kembali ke kota Bandar Lampung. Satu-satunya alasan kami berangkat di pagi buta yaitu berburu foto di lembah Pekon Batubrak (desa yang akan kami lewati di jalur perjalanan pulang). Kalau ingin dapat foto bagus di lembah ini ya harus bangun pagi sekali jangan sampai didahului matahari :). Ini kedatangan saya yang ketiga kalinya di Batubrak.



Tetap saja saya jauh dari kata bosan dengan pemandangan ngarai dan sawahnya yang begitu indah (benar-benar The Hidden Paradise) diselimuti kabut tipis yang berpadu dengan semburat cahaya matahari pagi, saya bisa benar-benar lupa kalau harus pulang di hari itu untuk kembali bekerja di kota Bandar Lampung :p.


sumber: http://wisata.kompasiana.com/group/jalan-jalan/2010/08/03/the-hidden-paradise-lampung-barat/