Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Friday, November 26, 2010

Monumen Perjuangan Rakyat Bali


Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Monumen Bajra Sandhi)
Monumen Perjuangan Rakyat Bali merupakan simbol rakyat Bali untuk menghormati para pahlawan dalam mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan lambang persemaian pelestarian jiwa perjuangan rakyat Bali dari generasi ke generasi, dari zaman ke zaman. Hal ini dapat dilihat dari 17 anak tangga yang ada di pintu utama, 8 buah tiang agung di dalam gedung monumen, dan bangunan utama monumen yang menjulang setinggi 45 meter. Monumen yang sangat megah dan indah ini terletak di pusat Kota Denpasar, tepatnya di tengah Lapangan Puputan Renon, di depan Kantor Gubernur Kepala Daerah Provinsi Bali.

Monumen Bajra Sandhi yang megah dan indah

Monumen Perjuangan Rakyat Bali juga dikenal dengan nama “Monumen Bajra Sandhi” karena bentuknya menyerupai bajra atau genta yang digunakan oleh para Pendeta Hindu dalam mengucapkan Weda (mantra) pada saat upacara keagamaan. Monumen ini dibangun pada tahun 1987 dan diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tanggal 14 Juni 2003. Tujuan pembangunan monumen ini adalah untuk mengabadikan jiwa dan semangat perjuangan rakyat Bali, sekaligus menggali, memelihara, mengembangkan serta melestarikan budaya Bali untuk diwariskan kepada generasi penerus sebagai modal untuk melangkah maju menapak dunia yang semakin sarat dengan tantangan dan hambatan.


Arsitektur Monumen Perjuangan Rakyat Bali sangat kental dengan budaya Bali dan falsafah Agama Hindu, yakni lingga dan yoni. Bangunan utama monumen melambangkan lingga, sedangkan dasar bangunan monumen melambangkan yoni. Pada bangunan utama monumen, dapat kita lihat :
  • Guci Amertha, disimbolkan dengan kumba (semacam periuk) yang terlihat di bagian atas monumen. 
  • Ekor Naga Basuki, diwujudkan di dekat Swamba, dan kepalanya pada Kori Agung. 
  • Badan Bedawang Akupa, diwujudkan pada landasan monumen. 
  • Gunung Mendara Giri, diwujudkan dengan monumen yang menjulang tinggi. 
  • Kolam yang mengelilingi monumen, diibaratkan sebagai Ksirarnawa (lautan susu).
    Keseluruhan area monumen berbentuk bujur sangkar, dengan menerapkan konsepsi Tri Mandala, yaitu :
    1. Utama Mandala adalah bangunan utama yang terletak paling tengah.
    2. Madya Mandala adalah pelataran yang mengitari Utama Mandala.
    3. Nista Mandala adalah pelataran yang paling luar, yang mengitari Madya Mandala.


    Diorama di dalam Monumen Perjuangan Rakyat Bali

    Bangunan gedung monumen pada Utama Mandala terdiri dari tiga lantai, yaitu :
    • Utamaning Utama Mandala adalah lantai tiga yang letaknya paling atas, berfungsi sebagai ruang peninjauan, tempat untuk menikmati keindahan suasana di sekeliling monumen. Pada saat cuaca cerah, para pengunjung bisa menikmati panorama Kota Denpasar dari tempat ini. Untuk mencapai tempat ini, para pengunjung harus mendaki anak tangga melingkar yang lumayan tinggi. 
    • Madyaning Utama Mandala adalah lantai dua yang berfungsi sebagai ruang diorama, tempat dipajangnya diorama perjuangan rakyat Bali dari masa ke masa yang berjumlah 33 unit. Dioramanya mirip dengan yang ada di Monas, Jakarta tetapi yang di sini hanya menampilkan perjuangan rakyat Bali sejak zaman kerajaan, masuknya Agama Hindu, zaman penjajahan, perang kemerdekaan, hingga saat ini. Di bagian luar, di sekeliling ruangan ini terdapat serambi atau teras terbuka untuk menikmati suasana sekitar.
    • Nistaning Utama Mandala adalah lantai dasar monumen, di mana terdapat ruang informasi, ruang administrasi, ruang pameran, ruang perpustakaan, ruang penjualan souvenir, ruang rapat, dan toilet. Di tengah-tengah ruangan terdapat kolam ikan dengan air mancur, delapan tiang agung dan juga tangga naik berbentuk tapak dara.

      Pemandangan Kota Denpasar dlihat dari lantai tiga Monumen Perjuangan Rakyat Bali

      Monumen Perjuangan Rakyat Bali dibuka untuk umum setiap hari kecuali hari libur nasional (tanggal merah), dengan jam buka : Senin - Jumat (08.30 - 17.00 WITA), Sabtu - Minggu (09.30 - 17.00 WITA). Untuk masuk ke monumen ini, setiap pengunjung harus membayar tiket masuk sebesar Rp 5.000,00 untuk dewasa (lokal) dan Rp 2.000,00 untuk anak-anak (lokal). Untuk turis asing, tiket masuknya Rp 10.000,00 untuk dewasa dan Rp 5.000,00 untuk anak-anak.

      Saat ini, monumen kebanggaan Rakyat Bali ini selain berfungsi sebagai monumen perjuangan juga berfungsi sebagai tempat berkumpul Warga Denpasar dan sekitarnya untuk sekedar rekreasi maupun berolahraga. Setiap pagi dan sore, monumen ini selalu dipadati Warga Denpasar untuk berolahraga, baik jalan santai, jogging, yoga, basket, maupun sepak bola. Pedagang makanan dan minuman ringan juga banyak di sekitar monumen ini. Anda tidak usah khawatir bakal kelaparan atau kehausan bila sedang berkunjung ke monumen ini. Jadi, luangkan waktu untuk berkunjung ke Monumen Perjuangan Rakyat Bali bila sedang berlibur di Bali!


      Wednesday, November 10, 2010

      Pura Tanah Lot Bali


      Tanah Lot adalah sebuah objek wisata di Bali, Indonesia. Di sini ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Dang Kahyangan. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut.


      Legenda
      Menurut legenda, pura ini dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa. Ia adalah Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16. Pada saat itu penguasa Tanah Lot, Bendesa Beraben, iri terhadap beliau karena para pengikutnya mulai meninggalkannya dan mengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben menyuruh Danghyang Nirartha untuk meninggalkan Tanah Lot. Ia menyanggupi dan sebelum meninggalkan Tanah Lot beliau dengan kekuatannya memindahkan Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun pura disana. Ia juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada sampai sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra. Akhir dari legenda menyebutkan bahwa Bendesa Beraben 'akhirnya' menjadi pengikut Danghyang Nirartha.


      Hari Raya
      Odalan atau hari raya di Pura ini diperingati setiap 210 hari sekali, sama seperti pura-pura yang lain. Jatuhnya dekat dengan perayaan Galungan dan yaitu tepatnya pada KuninganHari Suci Buda Cemeng Langkir. Saat itu, orang yang sembahyang akan ramai bersembahyang di Pura Ini.


      Lokasi
      Obyek wisata Tanah Lot terletak di Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km barat Tabanan. Disebelah utara Pura Tanah Lot terdapat sebuah pura yang terletak di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing ini menghubungkan pura dengan daratan dan berbentuk seperti jembatan (melengkung). Tanah Lot terkenal sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam (sunset), turis-turis biasanya ramai pada sore hari untuk melihat keindahan sunset di sini.


      Fasilitas
      Dari tempat parkir menuju ke area pura banyak dijumpai art shop dan warung makan atau sekedar kedai minuman. Juga tersedia toilet bersih yang harga sewanya cukup murah untuk kantong wisatawan domestik sekalipun.
       



      sumber: http://yogie5296.blogspot.com

      Wednesday, October 27, 2010

      Situs Perahu Batu

      Desa Sangliat Dol, salah satu desa dengan warisan adat yang masih sangat kental dan menarik.

      Berlokasi 42 kilometer dari kota Saumlaki, ibukota Kepulauan Tanimbar yang terletak tepatnya di pesisir timur Pulau Yamdena.

      Disinilah dapat kita temui peninggalan sejarah Perahu Batu dan Tangga Batu.

      Entah sejak kapan Perahu Batu dan Tangga Batu ini dibuat. Bahkan orang-orang tua disini pun tidak ada yang dapat menjelaskannya. Sangat disayangkan karena penyebaran warisan di desa kami hanya melalui cerita turun temurun. Tidak ada peninggalan tertulis yang dapat dijadikan sebagai bukti sejarah." Demikian jelas Kepala Desa Sangliat Dol ketika dikonfirmasi mengenai kapan tepatnya situs ini dibuat.

      Namun berdasarkan penjelasan beliau pula, diketahui bahwa sudah sangat banyak ilmuwan dari mancanegara yang sangat tertarik mengenai sejarah desa ini. Diperkirakan situs tersebut sudah ada sejak 400-500 tahun yang lalu, dengan fungsi awal yang belum terlalu jelas. Kini Perahu Batu digunakan sebagai pusat desa dimana warga akan selalu melakukan rapat-rapat desa yang penting seperti pemilihan Kepala Desa yang baru atau pembukaan lahan baru.

      Terdiri dari 4 soa (marga), Ayo Wembun, Sorluri, Aryesam dan Masriat, pola pembangunan pemukiman di desa ini mengikuti pola dari Perahu Batu tersebut. Soa Aryesam dipercaya untuk duduk di kemudi kanan Perahu Batu, maka pemukiman mereka terletak pada bagian kanan belakang desa. Soa Masriat selaku tuan tanah desa duduk di kemudi kiri dan bermukim pada bagian kiri belakang desa. Demikian juga dengan Soa Ayo Wembun yang dipercaya sebagai manusia pertama yang mendarat dan bermukim di desa tersebut.

      Selain Perahu Batu dan Tangga Batu yang terletak di tengah desa, ternyata masih ditemukan satu lagi situs Perahu Batu yang terletak di tepi pantai, di bawah Desa Sangliat Dol. Apa yang menarik dari Perahu Batu kedua ini karena terdapat sumur sebagai sumber mata air desa yang di anggap keramat, terletak di tengah Perahu Batu tersebut. Sangat mencengangkan melihat air tawar yang sangat bening muncul di pinggiran yang sangat dekat ke arah pantai.

      Budaya Katolik berbaur animisme, kepercayaan asli suku ini. Agama Katolik masuk sekitar tahun 1920-an dibawa oleh Bangsa Portugis, sehingga dalam pelaksanaan upacara adat diawali tata cara Budaya Animisme dan diakhiri dengan doa secara Katolik.

      Namun sangat disayangkan, bagian kepala perahu yang terletak di haluan telah dicuri sekitar tahun 2002 dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya, sehingga beberapa patung yang ada di situs ini disimpan di rumah tua, yaitu rumah yang ditinggali tetua adat suku ini.

      Setelah selesai mengelilingi Situs Perahu Batu dan Tangga Batu ini dan menggali ini iformasinya perjalanan dilanjutkan ke obyek wisata selanjutnya. Ikuti cerita perjalanan selanjutnya.

      Friday, October 15, 2010

      Benteng Pendem


      Benteng Pendem Cilacap Peninggalan Belanda ini, atau dalam bahasa Belanda disebut "Kusbatterij Op De lantong Te Tjilatjap" berada di terletak 0,5 km ke arah selatan dari Obyek Wisata Teluk Penyu dan berada di atas tanah seluas 6,5 Ha, di kawasan Pantai Teluk Penyu Cilacap.

      Benteng Pendem ini merupakan markas pertahanan tentara Hindia-Belanda yang dibangun secara bertahap pada tahun 1861-1879, Bangunan Benteng Pendem memiliki konfigurasi yang masih kokoh, dengan dikelilingi parit, mempunyai 60 kamar/ barak, benteng pengintai, gudang senjata, terowongan, ruang penjara, ruang rapat, ruang amunisi, ruang tembak dan 13 tempat-tempat penting untuk pertahanan yang dikelilingi oleh pagar dan parit serta tertimbun tanah sedalam 1-3 meter.


      Obyek wisata ini dilengkapi pula dengan beberapa fasilitas seperti :
      Tempat istirahat, Gazebo, Ayunan, Kolam Pemancingan dan sejumlah patung dinosaurus. Dari atas Benteng Pendem tampak jelas Pulau Nusakambangan.

      Harga Tiket Masuk :

      Orang
      Tarif
      Hari Biasa
      Hari Libur
      Pagi
      Siang
      Malam
      Pagi
      Siang
      Malam
      Dewasa
      Rp. 3.000,-
      Rp. 4.000,-
      Rp. 3.000,-
      Rp. 4.000,-
      Rp. 5.000,-
      Rp. 4.000,-
      Anak
      Rp. 2.500,-
      Rp. 3.000,-
      Rp. 2.500,-
      Rp. 3.000,-
      Rp. 4.000,-
      Rp. 3.000,-

      Layanan informasi :
      1.     Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Cilacap Telp. 0282-534481
      2.     Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Wilayah Cilacap Telp. 0282-534003
      email : diparta_clp@yahoo.co.id
      facebook: cilacap tourism




      Sunday, September 26, 2010

      Rumah Gubernur Inggris Thomas Stamford Raffles

      homas Stamford Raffles adalah Gubernur terakhir Inggris di Bengkulu sebelum akhirnya penguasaan terhadap Bengkulu di tukar oleh Pemerintah Kolonial Belanda dengan Pulau Kecil di ujung Semenanjung Malaka, ‘Singapura’. Dalam masa kekuasaannya Raffles tinggal di rumah ini yang selain digunakan sebagai tempat tinggal, juga dimanfaatkan untuk berbagai aktifitas dalam pemerintahannya.

      Bangunan ‘Istana Gubenur’ ini terletak sekitar 300 meter ke arah Utara Benteng Marlborough. Diantara kedua bangunan penting ini terdapat Tugu Thomas Parr yang merupakan salah satu monumen penting baik bagi Bangsa Inggris maupun Bangsa Indonesia.

      Konon cerita pada masanya terdapat terowongan bawah tanah yang menghubungkan Rumah Gubernur ini dengan sisi dalam Benteng Marlborough dengan melalui sisi bawah Tugu thomas Parr.

      Rumah kediaman yang lebih mengesankan sebagai ’Istana’ ini sangat kental dengan corak arsitektur Eropa. Tiang-tiang besar yang berjajar di sisi depan bangunan mengesankan kekuatan dan kemegahan. Dinding-dinding yang tebal dengan bingkai jendela yang lebar merupakan ciri khas bangunan Bangsa Eropa pada masa itu.

      Setelah kemerdekaan dan terutama setelah ditetapkannya Keresidenan Bengkulu menjadi Provinsi sendiri yang terpisah dari Provinsi Sumatera Selatan, Bangunan Rumah Kediaman Thomas Stamford Raffles ini di setahap demi setahap dipugar. Sekarang bangunan ini dimanfaatkan sebagai Rumah Kediaman Gubernur Bengkulu dimana sering pula digunakan sebagai tempat melakukan berbagai aktifitas pemerintahan daerah.

      Bangunan ‘Istana’ Raffles ini menjadi tempat yang tak boleh dilewatkan bila kita berkunjung ke Bengkulu. Bangunan ini merupakan bagian dari rangkaian prasasti yang mengisahkan kepada kita -generasi saat ini- betapa interaksi antara masyarakat Inggris dengan masyarakat Bengkulu pada masa itu begitu sarat dengan kesan dan kisah heroisme.


      sumber: http://www.wisatabengkulu.com

      Thursday, September 23, 2010

      Museum House Of Sampoerna

      Sekilas Mengenai H.O.S (House Of Sampoerna)

      Terletak di "Surabaya lama", ini kelihatan megah karena adanya gaya kolonial Belanda yang dibangun pada 1862 dan sekarang menjadi situs bersejarah . Sebelumnya tempat ini digunakan sebagai panti asuhan yang dikelola oleh Belanda,setelah itu pada tahun 1932 dibeli oleh Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna, dengan maksud itu digunakan sebagai pabrik rokok Sampoerna pertama dan terbesar.
      Tempat ini terdiri dari sebuah auditorium sentral besar, dua bangunan kecil di sisi barat dan timur dan sejumlah besar cerita, tunggal, struktur ruang terbuka di belakang pusat auditorium. Bangunan-bangunan samping dikonversi menjadi keluarga tempat tinggal dan gudang struktur seperti besar digunakan untuk mengakomodasi fasilitas untuk pengolahan tembakau dan cengkeh,pencampuran pencetakan, tangan-rolling dan kemasan, percetakan dan finishing.
      Sampai hari ini, tempat ini masih berfungsi sebagai tempat produksi untuk rokok paling bergengsi di Indonesia, Dji Sam Soe. Di peringatan ulang tahun ke 90 Sampoerna di tahun 2003, kompleks pusat telah susah payah dipulihkan dan sekarang terbuka untuk umum.
      Auditorium sentral asli sekarang menjadi museum dan timur sisi telah berubah menjadi sebuah struktur unik yang berisi sebuah café, kios merchandise dan galeri seni. Bangunan di sisi barat kediaman keluarga tetap resmi.

      Lokasi
      House of Sampoerna terletak pada kota tua, di bagian utara Surabaya. Tempat ini dekat ke pusat kota dan hanya beberapa blok dari China Town dan Kampung Arab (Masjid Ampel), selain itu juga dekat dengan jembatan merah (lokasi bersejarah) dan Tugu Pahlawan (monumen kebanggaan Indonesia di Surabaya). Taksi cukup murah dan merupakan cara yang paling nyaman bagi wisatawan untuk pergi sekitar Surabaya. Tempat parkir cukup luas dan tanpa biaya. Tetapi terkadang tempat parkir penuh, pengunjung dapat memarkir mobil dengan aman pada pinggir jalan (satu kali biaya parkir mungkin berlaku).

      Jam buka museum
      Senin-Minggu : pukul 09.00-22.00 WIB

      Tiket masuk : Gratis

      Transportasi:
      a. Dari Stasiun KA : 3 Km
      b. Dari Pelabuhan Laut Tanjung Perak : 5 Km
      c. Dari Terminal Bus Bungurasih : 20 Km
      d. Dari Bandara Udara Juanda : 33 Km

      Monday, June 21, 2010

      Candi Sewu, Candi Budha Terbesar Kedua

      Masih di dalam kompleks Candi Prambanan, dari Candi Bubrah saya kembali berjalan beberapa ratus meter ke utara. Di sana terdapat sebuah candi yang berdiri dengan megah yang bernama Candi Sewu.

      Candi Sewu merupakan candi yang bercorak agama Budha sama seperti halnya Candi Lumbung dan Candi Bubrah. Candi ini dibangun pada abad ke-8 Masehi pada masa akhir Kerajaan Rakai Panangkaran sebagai candi kerajaan dan merupakan salah satu pusat kegiatan keagamaan yang cukup penting pada saat itu.

      Ketika masuk ke area candi, kita akan disambut oleh dua buah arca penjaga dengan tubuh yang besar dan menyeramkan serta membawa senjata berupa pentungan.

      Meskipun namanya adalah Candi Sewu, tetapi jumlah candi yang ada di Candi Sewu tidak sampai seribu. Saya tidak tahu pastinya yang jelas jumlahnya hanya seperempatnya saja, terdiri dari satu buah Candi Induk, 8 Candi Apit, dan 240 Candi Perwara.

      Yang cukup membingungkan bagi saya adalah kaitan tentang cerita Roro Jonggrang dengan Candi Sewu dan juga Candi Prambanan. Ada yang bilang kalo cerita Roro Jonggrang tersebut adalah mitos terciptanya Candi Prambanan, tetapi kalo dilihat dari ceritanya yaitu Roro Jonggrang meminta dibuatkan 1000 candi akan mengacu pada Candi Sewu ini. Tapi ya sudahlah nggak usah terlalu dipikirin karena semuanya salah, namanya juga mitos. Hehe...

      Fakta yang menarik pada Candi Sewu adalah candi ini termasuk Candi Budha terbesar kedua setelah Candi Borobudur yang ada di Magelang. Fakta yang lainnya Candi Sewu yang bercorak Budha memiliki lokasi yang berdekatan dengan Candi Prambanan yang bercorak Hindu. Hal ini menunjukkan pada saat itu terjadi hubungan yang harmonis antara dua agama Hindu dan Budha.

      Oh ya.. Pada saat tulisan ini dibuat, Candi Sewu sedang mengalami pemugaran seperti halnya Candi Prambanan karena candi ini juga terkena efek gempa yang melanda Jogja pada tahun 2006. Terlihat juga banyak reruntuhan candi masih berantakan menunggu untuk dilakukan pemugaran.

      Meskipun satu kompleks dengan Candi Prambanan, sepertinya Candi Sewu bernasib sama dengan dua candi lain yang berada di kompleks Candi Prambanan yaitu Candi Lumbung dan Candi Bubrah. Ketiga candi tersebut sama-sama sepi pengunjung. Ketika saya kesana hanya ada seorang turis asal China beserta guidenya saja yang mengunjungi Candi Sewu. Padahal ada banyak pengunjung Candi Prambanan pada saat itu, tetapi yang mampir kesini hanya ada beberapa saja. Kalo pun tidak mau capek jalan kaki dari Candi Prambanan karena jaraknya yang hampir 1 Km, pengunjung bisa memanfaatkan kereta yang disediakan oleh pengelola Candi Prambanan. Untuk naik kereta tersebut saya nggak tau harus bayar lagi atau gratis.

      Yang pasti buat temen-temen yang akan berkunjung ke Candi Prambanan jangan lewatkan untuk berkunjung ke Candi Lumbung, Candi Bubrah, dan Candi Sewu. Karena tiket masuk ke Candi Prambanan sudah termasuk tiket untuk ke ketiga candi tersebut. Rugi banget kalo nggak mampir ke candi-candi tersebut sekalian..

      Wednesday, November 18, 2009

      Candi Gedong Songo

      Percandian gedong songo terletak di kaki gunung ungaran, kira- kira diketinggian 1200-1300 m diatas permukaan laut. Secara administrative candi gedong songo terletak di desa candi, kecamatan ambarawa kabupaten semarang.adapun secara astronomis terletak pada 110 ‘ 14’ 18’ BT dan 7’ 12’ 16 LS.

      Percandian gedong songo merupakan kompleks candi yang terdiri dari sembilan kelompok candi. Seluruh bangunan percandian gedong songo dibuat dari batuan andasit. komplek candi ini pada awalnya disebut candi “gedong pitoe” karena pada waktu itu ditemukan oleh Rafles hanya terdiri dari tujuh kelopok bangunan candi. Namun selanjutnya ditemukan dua kelompok candi sehingga dinamakan candi gedong songo . kata gedong (jawa) berarti bangunan songo berarti 9 jadi candi gedong songo adalah sembilan candi.meskipun menurut nama yang diberikan sembilan kelompok candi, maka saat ini hanya terdapat lima kelompok candi yang masih utuh.sedangkan empat candi lainnya sudah runtuh dan hanya tinggal pondasi atau dasarnya saja.


      Kelima kelompok candi tersebut letaknya berpencar, dimulai dari candi gedong I yang terletak paling bawah sampai dengan candi gedong V yang terletak paling atas. Kelima bangunan candi itu telah dipugar oleh Dinas Purbakala.

      Candi gedong I dan Gedong II telah dipugar pada tahun 1928 –1929 dan 1930 –1931, sedangkan candi gedong III, IV dan V tahun 1977 –1983 .

      Percandian gedong songo merupakan kelompok percandian yang bercorak agama hindu. Hal ini dapat diketahui berdasarkan arca dan relief yang menempati relung-relung bangunan candi. Seperti arca Ciwa Mahadewa, ciwa mahaguru, ganeca, durga mahisasuramardhini, nadiswara dan mahakala serta yoni yang terdapat pada bilik candi.keistimewaan dari percandian gedong songo antara lain terdapat arca gajah dalam posisi jongkok ( njerum :jw ) dikaki candi gedong III, dan yoni dalam bentuk persegi panjang yang terdapat di bilik candi gedong I.

      Mengenai masa pendirian candi gedong songo belum diketahui secara pasti, namun dari bentuk seni bangunan para ahli menafsirkan pendirina candi gedong songo hampir semasa dengan percandian dieng yang dianggap candi hindu tertua di jawa tengah. Dengan demikian candi gedong songo dibuat dalam kurun waktu abad ke VII –IX Masehi.

      Lokasi 9 candi yang tersebar di lereng Gunung Ungaran ini memiliki pemandangan alam yang indah. Di sekitar lokasi juga terdapat hutan pinus yang tertata rapi serta mata air yang mengandung belerang.


      Jarak tempuh
      Untuk menempuhnya, diperlukan perjalanan sekitar 40 menit dari Kota Ambarawa dengan jalanan yang naik, dan kemiringannya sangat tajam (rata-rata mencapai 40 derajat). Lokasi candi juga dapat ditempuh dalam waktu 10 menit dari obyek wisata Bandungan. Berikut daftar jarak tempuh menuju candi ini.
      Gedong Songo - Ungaran : 25 km
      Gedong Songo - Ambarawa : 15 km
      Gedong Songo - Semarang : 45 km

      Akses
      Untuk mengakses lokasi candi gedong songo sangat mudah, dari kota ambarawa hanya berjarak sekitar 15 km yaitu arah barat melewati objek wisata bandungan.

      Dari arah terminal Semarang naik bus kecil jurusan bandungan /gedong songo.
      Dari arah Yogyakarta naik bus jurusan semarang turun di kota Ambarawa. Disambung dengan naik angkot ke bandungan /gedong songo.



      Sumber: wikipedia.org , http://tantilestari.multiply.com/reviews/item/2
      photo: http://www.flickr.com

      Saturday, November 14, 2009

      Rumah Adat Karo

      Rumah adat di Tanah Karo menjadi obyek wisata yang sering dikunjungi turis khususnya wisatawan asing, namun sebagaimana umumnya rumah adat tua, kondisinya kini sudah mulai terancam karena tidak terawat. Banyak masyarakat Karo setempat yang pindah dari rumah adat dan membangun rumah biasa dengan pertimbangan lebih praktis. Saat ini masih terdapat sekitar 425 rumah tradisional Karo yang tersisa, tersebar di sejumlah desa antara lain di Lingga, Barusjahe, Dokan, Cingkes, Seberaya dan Suka. Seluruhnya masih dihuni, meski kondisinya sudah mulai banyak rusak dimakan usia. Jika tertarik dengan kebudayaan masyarakat Batak Karo maka dapat mengunjungi sejumlah rumah adat Karo yang terdapat di sekitar Brastagi. Salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi wisatawan untuk melihat rumat adat Batak Karo adalah Desa Lingga yang terletak di barat daya Brastagi dan hanya beberapa kilometer barat laut Kabanjahe. Anda dapat menumpang kendaraan umum dari Kabanjahe menuju Lingga.

      Monumen Gerbong maut



      Salah satu daya tarik wisata di Kabupaten Bondowoso adalah Monumen Gerbong maut, dimana pada tanggal 23 Nopember 1947 sejarah mencatat dengan tinta emas tentang perjuangan heroik rakyat Bondowoso melawan penjajah belanda. Sekitar 100 orang pejuang ditangkap dan diangkut dengan Gerbong No. GR.10152 berisi 30 orang. Gerbong No. GR.446 berisi 32 orang dan No. GR. 5769 berisi 38 orang dari Stasiun Kereta Api Bondowoso pada pukul 03.00 dini hari menuju Penjara Kli sosok Surabaya, Para pejuang / tahanan yang ada di Gerbong tua dalam keadaan tertutup terasa pengap karena kurang udara dan berdesak-desakan berebut udara melalui lubang kecil Gerbong tua yang mulai rapuh / keropos serta ditambah lagi sengatan matahari menerpa dinding Gerbong, sehingga membuat para pejuang melolonglolong kepanasanan dan kehausan mengakibatkan 40 orang dari seratus orang pejuang / tahanan gugur sebagai kusuma bangsa. Kejadian tersebut dikenal dengan peristiwa Gerbong Maut dan diabadikan dengan Monumen Gerbong Maut dijantung kota Bondowoso tepatnya di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Bondowoso. Untuk mengenang para jasa para pejuang maka setiap tahun diadakan Napak Tilas yang dilaksanakan tiap-tiap tahun pada Hari Pahlawan.dengan jarak tempuh sekitar 15 Km dari pusat kota ke arah timur.

      Museum Nasional

             Gedung ini didirikan oleh sebuah lembaga ilmu pengetahuan Bataviasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada tahun 1778, terletak di Jl. Medan Merdeka Barat no: 12. Di depannya terdapat sebuah patung gajah yang terbuat dari perunggu hadiah dari raja Chulalongkorn dari Siam (Thailand) saat mengunjungi Batavia pada tahun 1871 Oleh sebab itu museum Nasional kerap disebut juga Museum Gajah.
              Museum Gajah memiliki sejumlah besar benda-benda kebudayaan yang berasal dari berbagai suku atau etnis yang ada di Indonesia seperti pakaian, instrumen musik, model-model rumah adat dan sebagainya. Disini juga terdapat sejumlah besar barang-barang dari tembaga yang berasal dari masa ketika Hindu berjaya di Jawa.
              Museum juga memiliki koleksi batu bersejarah yang berhasil diselamatkan dari candi-candi di Jawa tengah dan tempat-tempat lainnya. Disini terdapat juga koleksi keramik Cina yang sangat bagus yang berasal dari masa dinasti Han (300 tahun sebelum Masehi hingga 220 tahun setelah Masehi) yang semuanya ditemukan di Indonesia. Museum Nasional juga memiliki peta timbul Indonesia yang sangat besar dan juga peta etnis yang juga tak kalah besarnya.

      Monday, November 2, 2009

      Museum Wayang

      Museum wayang yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara 27, Taman Fatahillah ini memiliki koleksi wayang yang terbaik di Jawa. Menempati lahan bekas gereja Belanda Oude Hollandsche Kerk (1640-1732) dan gereja Nieuw Hollandsche Kerk (1736-1808) yang kemudian hancur akibat gempa bumi. Bangunan yang nampak saat ini didirikan pada tahun 1912 sebagai gudang milik perusahaan Geo Wehry. Setelah beberapa kali pindah kepemilikan serta berubah fungsi akhirnya pada 13 Agustus 1975 ditetapkan sebagai Museum Wayang. Museum ini memiliki koleksi lengkap bermacam jenis wayang dari daerah-daerah di Indonesia seperti wayang kulit dari Jawa, Bali, Betawi dan Kalimantan; wayang golek, wayang beber, wayang kardus, wayang rumput serta topeng-topeng. Di museum ini juga terdapat berbagai boneka dari luar negeri antara lain dari Cina, Malaysia, India, Kamboja dan Inggris. Di halaman Museum Wayang ini terdapat tugu untuk mengenang beberapa orang gubernur jenderal Belanda yang pernah dimakamkan disini antara lain Jan Pieterszoon Coen, pendiri Batavia yang meninggal karena penyakit kolera ketika Batavia diserbu pasukan Mataram, dan Gubernur Jenderal Anthony van Diemen. Museum ini buka setiap hari dari jam 9 hingga jam 15 kecuali hari Senin.

      Monumen Nasional (MONAS)

      Monumen Nasional (Monas) setinggi 132 meter yang terletak di tengah Lapangan Merdeka ini telah menjadi simbol dari kota Jakarta. Di puncak monument terdapat simbol api berkobar terbuat dari logam perunggu berlapis emas seberat 35 Kg yang melambangkan kekuatan dan kemandirian bangsa Indonesia. Seluruh dinding Monas dilapisi marmer dari Italia. Monas adalah salah satu proyek Presiden Soekarno yang dibangun dengan biaya yang sangat mahal, Pembangunan Monas dimulai tahun 1961, namun baru bisa diselesaikan pada tahun 1975 dan dibuka secara resmi oleh Presiden Soeharto. Di lantai dasar Monas terdapat Museum Sejarah Nasional yang menggambarkan perjuangan kemerdekaan Indonesia dalam bentuk diorama. Juga terdapat Ruang Kemerdekaan dimana pengunjung dapat menyaksikan teks proklamasi yang asli serta mendengarkan suara pembacaan teks proklamasi oleh Bung Karno. Tugu yang menjulang hingga ketinggian 137 meter ini dicapai dengan menggunakan lift dan pengunjung dapat menyaksikan panorama kota Jakarta dan saat ini dikembangkan sebagai areal penting yang menjadi paru-paru kota dan sebagai tempat kegiatan sosial budaya sekaligus sebagai arena olahraga dan rekreasi. Pengunjung juga dapat menggunakan kendaraan tradisional Betawi yaitu delman yang dilengkapi aksesoris khas daerah ini.

      Akses
      Monumen Nasional terletak di Jl. Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Monas dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum seperti bus kota, taksi, dan lainnya.

      Fasilitas
      Museum Sejarah Nasional, Taman Monas untuk bersantai, delman untuk berkeliling sekitar monas, sarana olah raga seperti lapangan bola mini dan lainnya. Untuk menginap, terdapat banyak hotel yang terletak tidak jauh dari Monas, dan juga restoran di sekitar kawasan Monas. (kop/s)

      Monday, October 5, 2009

      KRATON

      Kraton adalah obyek wisata sejarah dan budaya, Kraton sendiri merupakan istana dan tempat tinggal Sultan Hamengku Buwana dan keluarganya, sementara itu Kraton telah berdiri sejak tahun 1756. Banyak wisatawan asing dari berbagai negara maupun wisatawan lokal yang berkunjung ke Kraton untuk mengetahui keindahan arsitektur bangunan keraton maupun menyaksikan adat dan budaya Kraton

      Akses
      Kraton terletak di tengah-tengah kota Yogyakarta. Anda bisa menggunakan taksi, becak, andong atau delman, angkutan umum, dan bus, yang banyak tersedia di pusat kota Yogyakarta, bisa juga dengan kendaraan pribadi, atau berjalan kaki.

      Fasilitas
      Jasa Pemandu, kios-kios penjual cindera mata, toko souvenir, dsb.

      Kegiatan yang dapat dilakukan
      Anda dapat berkeliling di kawasan Kraton bersama pemandu untuk melihat bangunan-bangunan sejarah di Kraton serta mengetahui adat dan budaya Kraton, setelah berkeliling anda juga bisa berbelanja souvenir khas Kraton yang terdapat di dalam Kraton atau di luar Kawasan Kraton.
      Bila ingin mengunjungi tempat ini sebaiknya berpakaian sopan,  jangan memakai celana pendek di atas lutut dan sebaiknya tidak mamakai sandal jepit. Kraton buka dari Senin sampai Minggu pukul 08.00-14.00, kecuali hari Jum’at Kraton hanya buka sampai pukul 12.00.